Bitcoin mencetak rekor harga baru di level US$80.594 yang memicu likuidasi posisi short senilai US$301,93 juta dalam 24 jam terakhir. Fenomena ini memberikan tekanan besar bagi trader yang mengambil posisi bearish di tengah optimisme pasar terhadap aset kripto dan kejelasan regulasi RWA terbaru.
Laju bullish Bitcoin (BTC) kembali memakan korban di sisi bearish. Pada perdagangan Senin pagi, harga Bitcoin sempat menyentuh angka US$80.594 (sekitar Rp1,28 miliar), level tertinggi sejak awal tahun ini. Pergerakan agresif tersebut memaksa para trader yang memasang posisi "short" atau bertaruh pada penurunan harga untuk menutup posisi mereka dalam kondisi rugi massal.
Data dari CoinGlass menunjukkan total likuidasi di pasar kripto mencapai US$370 juta dalam kurun waktu 24 jam. Dari angka tersebut, sebesar US$301,93 juta atau sekitar Rp4,8 triliun berasal dari posisi short. Sebanyak 97.235 trader terdampak oleh volatilitas tinggi ini, menandakan bahwa sentimen bearish yang sempat dominan di pasar justru berbalik menjadi bumerang bagi para spekulan.
Likuidasi Masif Melanda Trader Bearish
Bitcoin mendominasi angka kerugian dengan total likuidasi mencapai US$179 juta. Di posisi kedua, trader Ethereum (ETH) menyumbang angka US$95 juta. Salah satu kejadian paling mencolok adalah likuidasi tunggal pada pasangan ETH/USDT di bursa Binance yang nilainya mencapai US$11,77 juta.
Kondisi ini merupakan short squeeze kedua yang terjadi dalam dua pekan terakhir. Sebelumnya pada 18 April, pola serupa menghanguskan posisi short senilai US$593 juta saat harga menembus US$77.000. Analis melihat pola ini mulai bersifat struktural karena funding rates pada kontrak perpetual Bitcoin terus berada di zona negatif sepanjang April, yang berarti trader short harus membayar biaya kepada trader long untuk mempertahankan posisi mereka.
Dominasi Bitcoin dan Ethereum di Pasar Derivatif
Aktivitas di pasar derivatif menunjukkan adanya arus modal masuk yang kembali segar setelah fase de-risking di akhir April. Berikut adalah rincian metrik kunci pada beberapa aset utama:
- Bitcoin (BTC): Futures Open Interest (OI) naik ke 763,35K BTC dari titik terendah 707,24K BTC pada 1 Mei.
- Ethereum (ETH): Futures OI mencapai 14,17 juta ETH, level tertinggi sejak pertengahan April dengan Cumulative Volume Delta (CVD) positif.
- Zcash (ZEC): Menunjukkan lonjakan OI mendekati rekor empat bulan terakhir dengan funding rate positif di angka 7%.
- Dogecoin (DOGE): Menjadi performa terbaik di kategori memecoin dengan kenaikan 14,3% dalam sepekan terakhir.
Di sisi lain, pasar ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatatkan arus masuk bersih (net inflow) sebesar US$153,9 juta pekan lalu. Total akumulasi sepanjang April menembus US$1,97 miliar, yang menjadi rekor bulanan tertinggi dalam setahun terakhir. Sebaliknya, ETF Ethereum justru mencatatkan arus keluar sebesar US$82,5 juta, memutus tren positif selama tiga minggu berturut-turut.
Sentimen RWA dan Proyeksi Harga Menuju US$85.000
Sektor Real-World Asset (RWA) mendapatkan angin segar berkat kompromi imbal hasil dalam CLARITY Act. Regulasi ini mendorong perusahaan untuk mengubah skema program reward dari model "beli dan simpan" menjadi "beli dan gunakan". Dampaknya, token seperti Ondo Finance (ONDO) melonjak 11% dalam 24 jam terakhir karena dianggap memiliki kepastian regulasi yang lebih baik.
Analis dari FxPro memperingatkan bahwa meski tren saat ini sangat positif, Bitcoin memerlukan konsolidasi yang kuat di atas level psikologis tertentu untuk mengonfirmasi kelanjutan breakout. "Harga yang naik saat ini sedang bertemu dengan garis tren jangka panjang di level US$83.600. Konsolidasi di atas US$85.000 (sekitar Rp1,36 miliar) akan menjadi sinyal konfirmasi yang sangat kuat bagi para trader," tulis analis FxPro dalam laporannya.
Apa Artinya bagi Pengguna di Indonesia?
Lonjakan harga Bitcoin ke level Rp1,28 miliar ini berdampak langsung pada volume transaksi di bursa lokal seperti Indodax, Pintu, dan Tokocrypto. Bagi investor ritel di Indonesia, tingginya angka likuidasi short ini menjadi pengingat akan risiko tinggi menggunakan leverage besar di pasar derivatif saat volatilitas meningkat.
Kejelasan regulasi RWA di tingkat global juga berpotensi mempercepat adopsi tokenisasi aset di tanah air, mengingat OJK saat ini tengah aktif menggodok kerangka kerja untuk aset keuangan digital. Investor disarankan untuk tetap memantau level resistensi di US$83.600 sebagai indikator apakah reli ini akan berlanjut atau justru mengalami koreksi teknis dalam waktu dekat.