KENDARI — Angka kepesertaan JKN di Sulawesi Tenggara yang menembus target universal health coverage (UHC) belum otomatis menjamin keberlanjutan program. Deputi Direksi Wilayah IX BPJS Kesehatan, Asyraf Mursalina, mengungkapkan bahwa tekanan pembiayaan justru datang dari lonjakan kasus penyakit katastropik.
“Penyakit seperti jantung, kanker, dan stroke saat ini menjadi penyumbang terbesar pembiayaan pelayanan kesehatan dalam sistem JKN,” ujar Asyraf dalam Media Workshop yang digelar bersama Kantor Cabang Kendari, Selasa (12/5).
Tekanan Pembiayaan dari Penyakit Katastropik
Menurut Asyraf, mekanisme pembiayaan kesehatan nasional yang dikelola BPJS mencakup penghimpunan iuran, pengelolaan risiko bersama (risk pooling), hingga pembelian layanan secara strategis (strategic purchasing). Namun, beban klaim penyakit katastropik dinilai mengancam keseimbangan dana jika tidak diimbangi upaya pencegahan.
“Edukasi pola hidup sehat harus menjadi fokus bersama agar beban pembiayaan lebih terkendali,” tegasnya.
Peran Media dan Pemda dalam Menjaga Keaktifan
Workshop yang dihadiri puluhan wartawan ini tidak hanya menyoroti data kepesertaan. Asyraf menekankan posisi media sebagai mitra strategis dalam literasi publik, bukan sekadar penyampai informasi.
“Kami ingin membangun ruang dialog yang terbuka dan kolaboratif bersama insan pers,” kata Asyraf.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam memperluas cakupan dan menjaga keaktifan peserta. Sinergi itu diwujudkan melalui kebijakan daerah, integrasi data kepesertaan, serta komitmen membiayai iuran warga tidak mampu.
Apa yang Terjadi pada 400 Ribu Peserta Tidak Aktif?
Dari total 2,8 juta jiwa yang terdaftar, sekitar 401.917 jiwa tercatat tidak aktif. Artinya, mereka tidak bisa mengakses layanan kesehatan gratis atau subsidi penuh. Asyraf tidak merinci penyebab spesifik, tetapi biasanya faktor ekonomi dan perpindahan segmen kepesertaan menjadi pemicu utama.
“Kolaborasi dengan pemda berperan besar memastikan masyarakat memperoleh perlindungan,” ujarnya menambahkan.
Fokus ke Depan: Preventif Lebih Dini
BPJS Kesehatan mendorong penguatan upaya promotif dan preventif sebagai langkah jangka panjang. Tanpa intervensi gaya hidup, tren penyakit katastropik diprediksi terus meningkat dan membebani sistem pembiayaan.
Workshop ini menjadi bagian dari komunikasi terbuka antara BPJS dan media. Tujuannya, agar informasi program JKN sampai ke warga secara akurat dan berimbang — terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan terbatas seperti sejumlah wilayah di Sultra.