SULAWESI TENGGARA — Jika dulu angka pada nama mobil seperti BMW 316 atau 745i merujuk pada kapasitas mesin—meski sering tidak akurat—kini era elektrifikasi memaksa perencana produk menciptakan kode baru. Tujuannya ganda: memberi konsumen petunjuk soal baterai dan motor, sekaligus mendorong mereka membeli model termahal.
Fenomena ini terlihat jelas pada jajaran terbaru Volvo EX60. Alih-alih urutan logis seperti P6, P8, P10, P12, pabrikan Swedia itu melompatkan angka P8. Varian yang tersedia hanya P6, P10, dan P12. Apa yang sebenarnya terjadi?
Baterai Berbeda, Jarak Tempuh Berjenjang
Volvo sengaja memberikan ukuran baterai yang berbeda pada setiap varian EX60. P6 hanya dibekali motor tunggal dengan baterai jauh lebih kecil ketimbang P10 yang sudah dual-motor. Hasilnya, jarak tempuh pun tercipta berjenjang: P6 sekitar 380 mil, P10 di angka 410 mil, dan P12 jelas di atasnya.
“Kesenjangan jarak tempuh ini membuat konsumen berpikir ‘lebih besar lebih baik’,” tulis jurnalis senior dalam artikel asli. “Mereka pun rela merogoh kocek ekstra 3.000 poundsterling untuk varian yang tidak hanya dua, tapi empat huruf P lebih baik.”
Mengapa Varian P8 Tidak Dihadirkan?
Secara teknis, Volvo sebenarnya bisa membuat varian P8: baterai besar dipadu motor tunggal untuk efisiensi maksimal. Perkiraan jarak tempuhnya bisa mencapai 450 mil—lebih jauh dari P6 dan P10. Varian inilah yang paling direkomendasikan untuk konsumen rasional.
Namun, pabrikan tampaknya sengaja tidak menghadirkan P8. Strategi serupa juga diterapkan BMW pada iX3 terbaru, di mana varian single-motor 40 mendapat baterai lebih kecil ketimbang dual-motor 50. “Saya curiga ketidaklogisan penamaan ini terutama untuk memberi alasan bagi orang agar merogoh kocek lebih,” tulis sang jurnalis.
Berapa Jarak Tempuh yang Cukup?
Pertanyaan mendasar ini kembali mengemuka. Dulu, angka 300 mil WLTP dianggap standar karena di dunia nyata bisa susut menjadi 200 mil, ditambah kekhawatiran infrastruktur pengisian yang masih timpang. Kini, dengan jarak tempuh 500 mil WLTP dan jaringan pengisi daya cepat yang menjamur, kebutuhan akan “jarak ekstra” mulai dipertanyakan.
Dalam pengujian mingguan, jurnalis tersebut biasanya menempuh 500-600 mil. Untuk menguras baterai mobil listrik jarak jauh seperti iX3, ia harus merencanakan rute dengan cermat. Sebaliknya, pengguna harian dengan jarak tempuh 50 mil per hari bisa tidak perlu mengisi daya selama seminggu penuh.
Perlombaan Jarak Tempuh Belum Berakhir
Meski demikian, argumen untuk memiliki jarak tempuh lebih tetap relevan. Kemampuan melaju ke luar kota tanpa repot, serta kebebasan memilih waktu berhenti—bukan ditentukan oleh mobil—masih menjadi nilai jual utama. “Mobil listrik modern mungkin sudah punya jarak tempuh yang ‘cukup’,” tulisnya. “Tapi ‘cukup’ itu membosankan. Lebih baik punya sedikit kelebihan.”
Seiring baterai yang semakin kecil dan murah, mobil listrik murah akan diuntungkan, sementara mobil mewah bisa menghidupkan kembali era diesel 1.000 mil. Pertanyaan selanjutnya: apa nama yang pas untuk varian tersebut? “Saya menantikan Volvo EX60 Knight Industries Two Thousand,” canda sang jurnalis. “Kedengarannya seperti printer yang menderita delusi keagungan.”