SULAWESI TENGGARA — Bumble, aplikasi kencan yang selama satu dekade dikenal dengan prinsip "wanita memulai percakapan", resmi membalik arah kebijakan. Mulai pekan ini, pria yang mendapat kecocokan (match) bisa langsung mengirim pesan pertama tanpa menunggu respons dari wanita. Keputusan ini menandai pergeseran paling signifikan dalam sejarah perusahaan sejak didirikan Whitney Wolfe Herd pada 2014.
Perubahan ini diumumkan langsung oleh perusahaan pada Selasa (13/8) dan berlaku untuk seluruh pengguna global. Selain menghapus aturan lama, Bumble juga menambah jendela waktu respons dari 24 jam menjadi 72 jam. Kebijakan baru ini diharapkan mengurangi tekanan bagi pengguna yang kerap merasa terburu-buru membalas pesan sebelum kecocokan hangus.
Mengapa Aturan Ini Dihapus Sekarang?
Data internal Bumble menjadi alasan utama perubahan ini. Survei perusahaan menunjukkan 66% wanita yang disurvei justru lebih memilih pria yang mengirim pesan pertama. Mayoritas responden menyebut hal ini akan membuat proses berkencan terasa lebih santai dan tidak menegangkan.
Lebih dari separuh anggota yang disurvei juga menyatakan jendela respons 72 jam meningkatkan pengalaman mereka menggunakan aplikasi. Angka ini memperkuat sinyal bahwa pengguna, terutama wanita, sudah lelah dengan tekanan harus selalu aktif membuka aplikasi.
Whitney Wolfe Herd, dalam pernyataan resminya, menegaskan langkah ini bukanlah kemunduran dari misi awal perusahaan. "Meski wanita memulai percakapan adalah ide yang radikal, menjadi women-first tidak pernah berarti hanya menyediakan satu cara untuk terhubung. Ini tentang merancang pengalaman dengan mempertimbangkan kebutuhan wanita untuk menciptakan hasil yang lebih baik bagi semua orang," ujarnya.
Gelombang Perubahan Sudah Terlihat Sejak 2024
Kebijakan baru ini sebenarnya bukan kejutan total. Bumble sudah melonggarkan aturan aslinya sejak 2024 lewat fitur "Opening Moves". Fitur ini memungkinkan wanita menetapkan pertanyaan di profil mereka yang bisa dijawab pria sebagai pembuka percakapan. Kini, mekanisme itu dihapus total dan diganti dengan sistem bebas bagi kedua pihak.
Perubahan ini juga terjadi di tengah tekanan bisnis yang dihadapi Bumble. Laporan keuangan kuartal kedua yang dirilis pekan lalu menunjukkan pendapatan turun 15,2% year-on-year menjadi US$ 210,5 juta (sekitar Rp 3,4 triliun). Perusahaan bahkan memproyeksikan jumlah pelanggan berbayar akan terus menurun pada kuartal ketiga.
Strategi Baru Menghadapi Kejenuhan Pengguna
Industri aplikasi kencan tengah menghadapi tantangan besar berupa kelelahan pengguna (user fatigue) dan pasar yang semakin ramai. Bumble merespons dengan beberapa inisiatif: mengeksplorasi pengalaman tanpa fitur swipe, menambah acara tatap muka (offline), dan mengintegrasikan fitur kecerdasan buatan (AI) untuk menarik minat pengguna Gen Z.
Bagi pengguna di Indonesia, perubahan ini berarti dinamika percakapan di Bumble akan terasa berbeda. Pria tidak perlu lagi menunggu atau khawatir kecocokan hangus karena aturan lama. Namun, pengguna tetap perlu memperhatikan jendela 72 jam yang baru — jika tidak ada respons dalam tiga hari, kecocokan akan hilang otomatis.
Perubahan ini menjadi ujian besar bagi Bumble untuk mempertahankan identitasnya di tengah persaingan dengan Tinder dan aplikasi kencan lainnya. Pertanyaannya kini: apakah fleksibilitas baru ini cukup untuk mengembalikan pertumbuhan jumlah pengguna, atau justru menghilangkan daya tarik unik yang selama ini membedakan Bumble dari kompetitornya?