KENDARI — Angka inflasi Kota Kendari pada September 2026 tercatat 3,66 persen secara tahun kalender, turun tipis dibandingkan periode sebelumnya. Capaian ini membuat selisih dengan target moderat 3 persen kini hanya menyisakan 0,66 persen.
Kendati demikian, posisi Kendari masih menjadi yang tertinggi di Sulawesi Tenggara. Kabupaten Kolaka yang berada di urutan kedua mencatat inflasi 3,60 persen, hanya berbeda 0,06 persen dari ibu kota provinsi tersebut.
Tiket Pesawat dan Emas Perhiasan Dominasi Andil Inflasi
Dari sepuluh komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi, angkutan udara menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,81 persen. Emas perhiasan menyusul di posisi kedua sebesar 0,45 persen, disusul bahan bakar rumah tangga 0,30 persen dan bensin 0,27 persen.
Kelompok pendidikan turut memberi tekanan lewat tarif akademi dan perguruan tinggi dengan andil 0,24 persen. Komoditas lain yang masuk daftar adalah telepon seluler (0,18 persen), mobil (0,14 persen), ikan kembung (0,11 persen), sigaret kretek mesin (0,11 persen), serta lemari pakaian (0,09 persen).
Mengapa Pemkot Kendari Sulit Mengintervensi Harga?
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Kendari, Nismawati, menyebut tekanan inflasi periode ini justru banyak berasal dari kelompok nonmakanan. Kondisi itu membuat ruang gerak pemerintah daerah untuk melakukan intervensi langsung menjadi sempit.
“Secara umum Pemkot Kendari tidak punya kewenangan untuk intervensi, kecuali ikan kembung,” jelasnya dalam kegiatan pemantauan di BPS Kota Kendari, Selasa (1/9/2026).
Ikan kembung menjadi satu-satunya komoditas pangan dalam daftar penyumbang inflasi yang masih bisa dijangkau kebijakan daerah. Namun andilnya relatif kecil dibandingkan komoditas nonmakanan yang harganya ditentukan faktor di luar kendali pemkot, seperti harga avtur dan nilai tukar rupiah.
Selisih dengan Kolaka Hanya 0,06 Persen
Nismawati mengapresiasi tren penurunan ini meski mengakui pekerjaan rumah masih panjang. Ia menargetkan inflasi bisa ditekan hingga level moderat pada periode berikutnya.
“Alhamdulillah bulan ini inflasi kita sudah turun dan mendekati angka moderat, 3,66. Tinggal turun 0,16,” kata Nismawati.
Apa Langkah Pemkot Selanjutnya?
Pemkot Kendari tetap melakukan pemantauan harga dan koordinasi dengan instansi terkait, terutama untuk menjaga stok dan stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat. Nismawati menegaskan pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah.
Koordinasi antarpemangku kepentingan akan terus diperkuat agar daya beli warga tetap terjaga di tengah tekanan harga yang sebagian besar berada di luar kendali kebijakan lokal.