Pencarian

5 Tahapan Program Bayi Tabung dan Risiko yang Perlu Ibu Pahami

Jumat, 11 September 2026 • 09:18:01 WIB
5 Tahapan Program Bayi Tabung dan Risiko yang Perlu Ibu Pahami
Program bayi tabung dilakukan melalui beberapa tahapan yang saling berkaitan, mulai dari stimulasi ovarium hingga transfer embrio ke rahim.

SULAWESI TENGGARA — Bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) bekerja dengan mempertemukan sel telur dan sperma di laboratorium. Jika terjadi pembuahan dan embrio berkembang baik, embrio dipindahkan ke rahim. Prosesnya tidak berjalan dalam satu kali prosedur, melainkan lewat beberapa tahapan yang saling berkaitan.

Setiap tahap punya tujuan dan risikonya masing-masing. Protokol IVF pun bisa berbeda antara satu pasangan dan pasangan lain, tergantung usia, penyebab infertilitas, kondisi ovarium, kualitas sperma, serta riwayat pengobatan sebelumnya.

1. Stimulasi Ovarium

Tahapan pertama biasanya dimulai dengan stimulasi ovarium. Dokter memberikan obat hormonal untuk merangsang ovarium agar menghasilkan beberapa sel telur dalam satu siklus.

Selama stimulasi, perkembangan folikel dipantau lewat USG dan, pada kondisi tertentu, pemeriksaan hormon. Tujuannya mengetahui respons ovarium sekaligus menentukan waktu yang tepat untuk pengambilan sel telur. Respons setiap perempuan bisa berbeda, ada yang menghasilkan banyak folikel, ada pula yang lebih sedikit.

Salah satu hal yang jadi perhatian dokter adalah risiko ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS), kondisi ketika ovarium merespons obat stimulasi secara berlebihan. Sebuah penelitian yang menganalisis lebih dari 214 ribu siklus teknologi reproduksi berbantu (ART) menemukan bahwa OHSS berkaitan dengan karakteristik tertentu pasien dan berhubungan dengan peningkatan risiko kehamilan multipel serta beberapa luaran kehamilan yang kurang baik.

Karena itu, pemantauan selama stimulasi penting agar dokter bisa menyesuaikan dosis obat dan menekan risiko komplikasi.

2. Pengambilan Sel Telur

Ketika folikel sudah berkembang dan sel telur dinilai siap, dokter melakukan prosedur pengambilan sel telur atau egg retrieval. Prosedurnya umumnya dibantu USG transvaginal, dengan jarum khusus diarahkan menuju folikel untuk mengambil cairan yang mengandung sel telur.

Sel telur lalu dibawa ke laboratorium untuk diperiksa dan dipersiapkan bagi proses pembuahan. Pengambilan sel telur tergolong relatif aman, tetapi tetap ada kemungkinan komplikasi seperti perdarahan, infeksi, atau cedera pada organ di sekitar ovarium. Komplikasi serius terbilang jarang.

Sebuah studi di Finlandia yang melibatkan 9.175 perempuan yang menjalani IVF menemukan bahwa komplikasi serius seperti OHSS, kehamilan ektopik, dan keguguran dapat terjadi setelah terapi IVF, sementara infeksi dan perdarahan tergolong jarang.

3. Pembuahan dan Perkembangan Embrio

Setelah sel telur berhasil diambil, tahap berikutnya adalah pembuahan. Sel telur dapat dipertemukan dengan sperma di laboratorium. Pada kondisi tertentu, dokter bisa memakai metode intracytoplasmic sperm injection (ICSI), yaitu memasukkan satu sperma langsung ke dalam sel telur.

Perlu diingat, tidak semua sel telur yang diambil berhasil dibuahi. Begitu pula, tidak semua hasil pembuahan berkembang menjadi embrio yang layak ditransfer.

Embrio kemudian dipantau perkembangannya di laboratorium. Dokter dan ahli embriologi menilai perkembangan embrio sebelum menentukan mana yang akan digunakan untuk transfer. Jumlah dan kualitas embrio menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan strategi transfer.

4. Transfer Embrio ke Rahim

Embrio yang dipilih dimasukkan ke dalam rahim menggunakan kateter tipis yang melewati vagina dan leher rahim. Prosedur ini biasanya dilakukan tanpa operasi besar.

Setelah embrio berada di rahim, diharapkan terjadi implantasi sehingga kehamilan bisa berkembang. Jumlah embrio yang ditransfer jadi pertimbangan penting, karena transfer lebih dari satu embrio meningkatkan kemungkinan kehamilan kembar.

Kehamilan multipel memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan kehamilan tunggal. Sebuah meta-analisis terhadap studi kohort menemukan bahwa kehamilan multipel dari teknologi reproduksi berbantu berkaitan dengan peningkatan risiko komplikasi kehamilan dan luaran kehamilan yang kurang baik. Karena itu, pada pasien tertentu dokter dapat merekomendasikan single embryo transfer.

Risiko yang Perlu Diperhatikan Sepanjang Prosedur

Risiko pada program bayi tabung tidak hanya muncul di satu tahap. OHSS bisa terjadi saat stimulasi, sementara perdarahan dan infeksi—meski jarang—berpotensi muncul saat pengambilan sel telur. Setelah transfer embrio, ada pula risiko kehamilan ektopik dan keguguran.

Kehamilan kembar akibat transfer lebih dari satu embrio juga membawa konsekuensi tersendiri. Komplikasi kehamilan dan luaran yang kurang baik lebih sering ditemukan pada kehamilan multipel hasil teknologi reproduksi berbantu dibandingkan kehamilan tunggal.

Pemantauan bertahap dan penyesuaian protokol oleh dokter menjadi kunci untuk menekan risiko-risiko tersebut. Setiap keputusan, termasuk jumlah embrio yang ditransfer, disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Yang Perlu Ibu Diskusikan dengan Dokter

Sebelum menjalani program bayi tabung, penting untuk membahas riwayat kesehatan, penyebab infertilitas, dan kondisi ovarium secara terbuka dengan dokter. Tanyakan juga soal risiko OHSS, pilihan jumlah embrio yang ditransfer, serta kemungkinan komplikasi lain di tiap tahap.

Setiap pasangan punya kondisi berbeda, sehingga tidak ada satu protokol yang cocok untuk semua. Diskusi yang jujur dengan dokter membantu ibu dan pasangan memahami apa yang akan dijalani sekaligus menyiapkan langkah antisipasi yang tepat.

Follow kabarbaubau.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks