BAUBAU — Pemutaran perdana film dokumenter "OASIS: Keindahan Negeri Seribu Goa Buton Tengah dan Pulau Muna" menjadi medium memperkenalkan potensi bentang alam karst di dua kabupaten tersebut kepada publik yang lebih luas. Kegiatan diseminasi itu melibatkan komunitas gua dan freediving yang selama ini menekuni eksplorasi kawasan bawah tanah Sulawesi Tenggara.
Film berdurasi sekitar 17 menit ini mempertemukan empat bidang kerja sekaligus: eksplorasi bawah tanah, penyelaman, produksi audiovisual, dan perspektif kebudayaan. Visualnya menampilkan ruang bawah tanah, lanskap pesisir, serta laut yang digarap secara sinematik dalam format 4K.
Sembilan Bulan Eksplorasi dan Produksi
Akademisi Universitas Muhammadiyah Buton sekaligus penerima manfaat program, Nur Inzana, menyebut film tersebut lahir dari kolaborasi lintas bidang yang berlangsung sekitar sembilan bulan. Menurut dia, pendekatan itu dipilih agar penonton bisa melihat langsung keindahan alam Buton Tengah dan Muna.
"Dokumenter ini merupakan hasil kolaborasi yang dilakukan selama kurang lebih sembilan bulan. Kami ingin memperkenalkan kekayaan kawasan OASIS melalui karya visual yang dapat membawa penonton melihat langsung keindahan alam yang ada di Buton Tengah dan Muna," ujar Nur Inzana.
Proses produksi melibatkan Laode Halimudin Maswar, Founder Rock N Roll Dive, bersama delapan orang tim penyelam. Adapun produksi audiovisual dikerjakan ADIMARA Studio bersama Jack Stiawan.
Empat Gua Jadi Lokasi Pengambilan Gambar
Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi berkarakteristik karst dan gua. Di antaranya Goa Moko Panjang, Goa Oe Bosu, Goa Lapahia, dan Goa Liangkabori yang tersebar di wilayah Kabupaten Buton Tengah dan Kabupaten Muna.
Visual film tidak hanya memperlihatkan ruang bawah tanah. Lanskap pesisir dan laut juga menjadi bagian penting dari cerita yang dibangun untuk memperlihatkan keterhubungan ekosistem kawasan OASIS.
Nur Inzana menilai keberadaan kawasan karst tersebut tidak semata-mata memiliki nilai keindahan. Kawasan itu juga menyimpan nilai ekologis, ilmiah, dan potensi wisata minat khusus.
Dukungan Dana Indonesiana dan Peluang Geowisata
Karya dokumenter ini lahir melalui dukungan Program Dana Indonesiana yang didukung Kementerian Keuangan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung pemajuan kebudayaan melalui Dana Abadi Kebudayaan (DAK).
Kawasan karst Buton Tengah dan Muna memiliki karakteristik alam yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari geowisata dan wisata minat khusus. Aktivitas yang berpotensi dikembangkan meliputi eksplorasi gua, penyelaman, serta penelitian terhadap ekosistem karst.
Pengembangan potensi wisata itu dinilai perlu berjalan beriringan dengan upaya pelestarian. Dokumentasi visual menjadi salah satu cara memperkenalkan warisan alam kepada publik sekaligus membuka ruang pembicaraan lebih luas mengenai konservasi dan pemanfaatannya secara berkelanjutan.