SULAWESI TENGGARA — Desa Maumbi di Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara, dikenal sebagai desa biapong sekaligus destinasi budaya yang menyimpan waruga dan makam pahlawan Maria Walanda Maramis. Desa ini dilalui Jalan Raya Manado-Bitung dan berbatasan langsung dengan Kota Manado, sehingga mudah dijangkau dalam perjalanan singkat dari pusat kota. Julukan desa biapong melekat setelah wisatawan China rutin membeli biapong sebagai oleh-oleh.
Maumbi berasal dari nama pohon yang dahulu banyak tumbuh di kawasan tersebut. Posisinya sebagai pintu gerbang Kabupaten Minahasa Utara dari arah Kota Manado membuat desa ini sering dilewati pelancong yang menuju Bitung atau kembali ke Manado.
Biapong, Kuliner Khas yang Melegenda
Biapong adalah sebutan lokal untuk bakpao. Bedanya, tekstur biapong lebih padat dan ukurannya cukup besar dibandingkan bakpao biasa.
Isiannya pun lebih banyak, sementara teksturnya tetap empuk. Popularitas biapong Maumbi mencuat setelah banyak turis China datang langsung ke desa ini untuk membeli biapong sebagai oleh-oleh.
Jejak Budaya: Kolintang hingga Tradisi Sumakei
Sebagai desa budaya, Maumbi memiliki sanggar kolintang yang aktif. Warga juga masih menjalankan tradisi sumakei, yakni makan bersama yang dilakukan secara spontan oleh masyarakat setempat.
Tradisi ini mencerminkan kebersamaan warga yang masih terjaga hingga kini.
Waruga dan Ragam Hias Penuh Makna
Maumbi menyimpan peninggalan arkeologi berupa waruga, peti kubur yang terbuat dari batu. Waruga-waruga ini memiliki pola hias berbentuk manusia, hewan, tumbuhan, dan geometris dengan makna masing-masing.
Ragam hias manusia digambarkan dengan posisi kaki kangkang, menandakan seorang lelaki kuat atau dalam bahasa Tonsea disebut tuama keted. Sementara ragam hias manusia perempuan merupakan simbol Lingkan Wene, dewi kesuburan.
Ular hitam menjadi tanda bahaya sekaligus simbol kewaspadaan. Burung manguni dipercaya sebagai pembawa kabar baik dan buruk, sedangkan burung pisok bermakna energik dan lincah.
Tumbuhan paku dengan lengkung ujungnya memberi makna lembut dan bersahaja. Ragam hias geometris berbentuk bola mata burung manguni bermakna sigap dan cermat.
Dalam konteks ini, walian berperan memimpin upacara agama atau adat. Mereka juga ahli di bidangnya masing-masing.
Makam Maria Walanda Maramis
Maumbi juga memiliki destinasi wisata sejarah berupa makam pahlawan nasional Maria Walanda Maramis, yang terletak di Jalan Raya Manado-Bitung.
Di halaman bagian depan berdiri monumen berbentuk segi lima. Maria mendirikan organisasi Perkumpulan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT), memperjuangkan pendidikan kaum perempuan, dan menolak diskriminasi terhadap perempuan.
Cara Menuju dan Tips Berkunjung
Desa Maumbi berada di Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara, dan dilalui Jalan Raya Manado-Bitung. Dari Kota Manado, desa ini bisa dicapai melalui jalur darat karena berbatasan langsung dengan kota tersebut.
Untuk informasi terkini soal jam kunjungan ke makam Maria Walanda Maramis, sanggar kolintang, maupun lokasi waruga, wisatawan dapat mengonfirmasi ke dinas pariwisata setempat.
Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hingga siang hari. Bawa uang tunai untuk membeli biapong sebagai oleh-oleh, dan kenakan pakaian sopan saat mengunjungi makam pahlawan serta situs waruga.
Durasi ideal untuk menjelajahi Maumbi sekitar setengah hari, cukup untuk membeli biapong, melihat waruga, dan berziarah ke makam Maria Walanda Maramis sebelum melanjutkan perjalanan ke Bitung atau kembali ke Manado.