KENDARI — Kepala BI Sultra Edwin Permadi menyebut hilirisasi industri menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah. Beberapa perusahaan tambang di Kolaka telah memulai produksi hilirisasi untuk produk nikel tingkat tinggi hingga komponen bahan baku baterai.
Jadwal produksi sempat bergeser dari target awal triwulan II ke triwulan III. Penyebabnya kendala pasokan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah.
Hilirisasi Nikel Mulai Berjalan, Dampak Ditargetkan Terasa Triwulan III
Edwin menyatakan produksi hilirisasi kini sudah mulai berjalan. Dampaknya diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi Sultra lebih tinggi pada triwulan III.
"Tadinya memang ditargetkan berjalan pada triwulan II, namun sempat bergeser ke triwulan III karena adanya kendala pasokan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah. Namun kini sudah mulai berjalan, dan kita harapkan di triwulan III ini dampaknya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Sultra lebih tinggi," ujar Edwin.
Ekonomi Biru hingga Energi Terbarukan Jadi Andalan Selanjutnya
BI Sultra menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi berkelanjutan di luar sektor pertambangan. Ekonomi biru di sektor kelautan serta ekonomi hijau dan energi terbarukan masuk dalam prioritas pengembangan.
Potensi energi angin, laut, hingga pengembangan sektor pariwisata dinilai sangat potensial untuk dikembangkan di wilayah Sultra.
"Sultra punya potensi besar, seperti pariwisata di Labengki, Namu, Buton, hingga Wakatobi. Jika semua pihak—pemerintah daerah, pengusaha, akademisi, dan media—bersatu dan berkomitmen, pertumbuhan ekonomi kita akan semakin melesat," jelasnya.
Business Matching hingga Pendampingan Ponpes untuk UMKM
Sejumlah program pemberdayaan ekonomi terus dijalankan BI Sultra. Program itu mencakup business matching bagi UMKM berpotensi ekspor, pendampingan pondok pesantren, hingga gelaran forum ekonomi.
Edwin juga menjelaskan peran kegiatan tahunan Forkestra yang kini memasuki penyelenggaraan tahun ke-6. Forum ini menjadi wadah pengumpulan gagasan, gagasan ilmiah, dan opini dari akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Pada gelaran tahun ini, terdapat sekitar 900 karya ilmiah yang masuk dan dinilai oleh tim penilai profesional serta akademisi dari berbagai universitas. Penilaian itu dilakukan bekerja sama dengan Universitas Halu Oleo (UHO) dan Pemda.
"Hasil gagasan dan karya ilmiah dari Forkestra ini nantinya akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai bahan masukan kebijakan. Misalnya gagasan terkait pengembangan ekonomi biru di Wakatobi atau hilirisasi pangan untuk menekan inflasi. Mana yang aplikatif dan bisa diimplementasikan, tentu akan kita dorong bersama," pungkas Edwin.