KENDARI — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara mencatat fenomena unik pada sektor pertanian daerah dalam tiga tahun terakhir. Meskipun luas lahan panen untuk sejumlah komoditas mengalami penurunan, total produksi hortikultura di provinsi ini justru tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil.
Kondisi ini menjadi sinyal kuat adanya perubahan pola tanam dan peningkatan produktivitas di tingkat petani. BPS menilai hasil panen saat ini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada luas hamparan lahan, melainkan lebih dipengaruhi oleh efektivitas pengelolaan dan penggunaan teknologi pertanian.
Pertumbuhan volume produksi ini berdampak langsung pada struktur ekonomi daerah. Kontribusi subkategori hortikultura terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tenggara tercatat tumbuh konsisten sejak 2023 hingga proyeksi 2025.
Sektor ini dinilai mampu menggerakkan rantai ekonomi lokal secara lebih luas. Mulai dari sisi hulu di tingkat produksi, kelancaran arus distribusi, hingga pemenuhan level konsumsi masyarakat di pasar-pasar tradisional maupun modern.
Data BPS mengungkap perbedaan performa antar-komoditas yang cukup kontras. Cabai rawit, yang sering menjadi pemicu inflasi, tercatat mengalami penurunan luas panen yang disertai dengan angka produksi yang fluktuatif dalam tiga tahun terakhir.
Kondisi berbeda terlihat pada komoditas sayuran lainnya. Produksi kangkung dan terung justru terus meningkat secara konsisten. Menariknya, kenaikan produksi kedua komoditas ini terjadi tanpa adanya penambahan luas panen yang signifikan, yang mengindikasikan keberhasilan intensifikasi lahan.
BPS Sultra menyebut peningkatan produktivitas ini merupakan hasil dari efisiensi dan inovasi di lapangan. Pengelolaan lahan yang lebih produktif memungkinkan petani menghasilkan volume yang lebih besar meski bekerja di atas lahan yang terbatas atau bahkan berkurang.
Tren positif ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah ke depan. Gambaran utuh mengenai capaian sektor ini telah dirangkum dalam publikasi terbaru “Sulawesi Tenggara Dalam Angka 2026” yang memuat data sektoral komprehensif bagi para pemangku kebijakan.