SULAWESI TENGGARA — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merilis data distribusi wholesales April 2026 yang menunjukkan total pasar nasional mencapai 80.776 unit, tumbuh 31,8 persen dibanding Maret 2026. Dari angka tersebut, kontribusi mobil listrik mencapai 14.815 unit, setara 18,34 persen dari total penjualan. Capaian ini mempertegas tren peningkatan permintaan kendaraan listrik di dalam negeri yang terus berakselerasi.
Jaecoo J5 mempertahankan posisinya sebagai mobil listrik terlaris dengan distribusi 3.179 unit. Model ini konsisten memimpin sejak awal tahun. Sementara itu, BYD mencatat performa impresif lewat MPV andalannya, BYD M6, yang distribusinya melonjak dari 523 unit di Maret menjadi 2.472 unit di April. Kenaikan serupa dialami Denza D9 yang menembus 1.032 unit.
BYD Sealion 07 juga tampil menonjol dengan 1.617 unit. Sebaliknya, BYD Atto 1 yang sempat mendominasi pasar justru merosot tajam ke angka 108 unit. Di sisi lain, Geely EX2 masuk jajaran empat besar dengan distribusi 1.042 unit, menunjukkan persaingan di segmen mobil listrik ringkas semakin ketat.
Secara kumulatif, distribusi mobil listrik periode Januari–April 2026 mencapai 47.781 unit, melonjak 89,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 25.231 unit. Lonjakan ini tidak lepas dari pulihnya pasar otomotif nasional pasca-liburan Lebaran, yang sempat mengalami perlambatan. Namun, faktor struktural juga berperan: semakin banyaknya pilihan model di bawah Rp 400 juta dan ekspansi infrastruktur pengisian daya di kota-kota besar.
Produsen asal China, seperti Jaecoo, BYD, dan Geely, agresif memperkenalkan model baru dengan harga kompetitif. Strategi ini langsung berdampak pada peningkatan volume penjualan. Sementara itu, pemain lama seperti Hyundai dan Wuling belum mampu menyaingi laju pertumbuhan tersebut dalam data April 2026.
Data ini menunjukkan bahwa segmen MPV dan SUV listrik masih menjadi primadona konsumen Indonesia. BYD M6, misalnya, berhasil memanfaatkan kebutuhan mobil keluarga tujuh penumpang dengan harga yang relatif terjangkau. Sementara Jaecoo J5 mengandalkan desain kompak dan fitur keselamatan yang sesuai dengan preferensi pengguna perkotaan.
Apakah tren kenaikan pangsa pasar mobil listrik akan berlanjut?
Kenaikan 89,4 persen secara tahunan mengindikasikan permintaan yang kuat. Namun, keberlanjutan tren ini bergantung pada stabilitas insentif pemerintah dan perluasan jaringan pengisian daya di luar Jawa.
Mengapa BYD Atto 1 justru turun drastis?
Penurunan BYD Atto 1 kemungkinan disebabkan oleh pergeseran preferensi konsumen ke model BYD yang lebih baru seperti Sealion 07 dan M6, serta persaingan ketat dari Jaecoo J5 di segmen harga yang sama.