KENDARI — Di tengah tekanan ekonomi yang membuat lapangan kerja kian sempit, Konawe Kepulauan justru mencatatkan prestasi membanggakan. Berdasarkan data BPS Sultra yang dirilis pada 21 Januari 2026, TPT di kabupaten yang baru berusia 13 tahun ini hanya 1,52 persen—angka paling rendah dibandingkan 17 kabupaten/kota lainnya di Bumi Anoa.
Meski angka itu naik tipis dari 1,51 persen pada Agustus 2024, Konkep tetap menjadi daerah dengan serapan tenaga kerja paling stabil di Sultra. Kepala BPS Sultra, dalam rilis datanya, menyebutkan bahwa jumlah pengangguran di Konkep hanya 623 orang dari total angkatan kerja yang ada.
Di posisi kedua, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) menunjukkan performa impresif. TPT di Kolut turun dari 1,64 persen pada 2024 menjadi 1,62 persen pada 2025. Tren serupa juga terjadi di Kabupaten Buton Utara (Butur) yang berhasil menekan angka pengangguran secara signifikan—dari 2,13 persen menjadi 1,98 persen.
Beberapa daerah lain juga mencatatkan perbaikan. TPT di Kolaka turun menjadi 2,25 persen pada 2025, dari sebelumnya 2,59 persen. Kabupaten Konawe juga turun ke 2,81 persen, sementara Buton Selatan (Busel) turun cukup dalam ke 2,92 persen dari 3,48 persen. Kota Baubau turun tipis ke 3,95 persen.
Namun, tidak semua daerah bernasib baik. Kota Kendari tercatat sebagai wilayah dengan TPT tertinggi di Sultra, mencapai 5,94 persen—naik dari 5,67 persen pada tahun sebelumnya. Kenaikan signifikan juga dialami Kabupaten Konawe Utara (Konut) yang melonjak dari 2,40 persen menjadi 3,99 persen.
Kabupaten Bombana naik dari 1,43 persen menjadi 2,52 persen, sementara Wakatobi kini berada di angka 3,82 persen, naik dari 3,02 persen. Secara keseluruhan, TPT di level provinsi pada 2025 berada di angka 3,31 persen—sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata 3,09 persen pada 2024.
Pemerintah daerah diharapkan menjadikan data ini sebagai pijakan untuk merumuskan kebijakan perluasan lapangan kerja dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Wilayah-wilayah yang mencatatkan kenaikan TPT, seperti Kendari dan Konawe Utara, membutuhkan perhatian lebih serius dalam program pelatihan kerja dan penyerapan tenaga kerja lokal.