KENDARI — Kementerian Ketenagakerjaan meluncurkan program wirausaha inklusif di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini mengusung tema "Wirausaha Inklusif, Tumbuh Bersama" dan sekaligus mengaktivasi platform Talent Innovation Hub (TIH) di kota tersebut.
Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan, Sukro Muhab, menegaskan bahwa inklusivitas bukan sekadar jargon. "Inklusivitas bukan sekadar isian kata, melainkan pondasi utama agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dapat dinikmati seluruh masyarakat tanpa memandang kemampuan fisik, usia, maupun latar belakang," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (24/5/2026).
Pemerintah mengandalkan empat strategi utama untuk memperluas akses kerja penyandang disabilitas. Pertama, penguatan kelembagaan melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang kini sudah terbentuk 268 unit di berbagai daerah. Kedua, transformasi layanan ketenagakerjaan yang lebih responsif.
Ketiga, peningkatan kesiapan kerja melalui pelatihan dan inkubasi usaha. Keempat, kampanye penerimaan sosial di masyarakat dan dunia usaha. "Pemerintah menegaskan komitmen kuat untuk membuka akses seluas-luasnya bagi penyandang disabilitas, perempuan, kaum muda, dan kelompok rentan," tambah Sukro.
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2025, dari total 5,57 juta penduduk usia kerja penyandang disabilitas, sebanyak 1,24 juta masuk dalam angkatan kerja. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,17 juta orang telah bekerja. Tingkat pengangguran terbuka kelompok ini masih berada di angka 5,41 persen.
Kemnaker menargetkan penempatan 1.000 tenaga kerja disabilitas dalam lima tahun ke depan melalui kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Program ini mencakup pembinaan dan penempatan kerja secara terpadu.
Kota Kendari dinilai memiliki catatan baik dalam mendukung tenaga kerja disabilitas. Dua perusahaan lokal, Toko Cahaya Gorden dan CV Nusantara, meraih penghargaan nasional pada 2025 karena aktif mempekerjakan penyandang disabilitas.
Melalui Talent Innovation Hub yang baru diluncurkan, pemerintah menghubungkan kebutuhan industri dengan pengembangan kompetensi tenaga kerja. Platform ini mencakup inkubasi usaha hingga komersialisasi produk. "Mari jadikan tahun 2026 sebagai tonggak sejarah di mana wirausaha Indonesia lebih inklusif, lebih tangguh, dan menjadi motor penggerak kesejahteraan yang merata bagi semua," tutup Sukro.