SULAWESI TENGGARA — AKURAT.CO - Perundungan atau bullying di lingkungan sekolah masih menjadi persoalan kronis yang dampaknya melampaui cedera fisik. Korban kerap mengalami tekanan psikologis mendalam yang memengaruhi kesehatan mental dan kemampuan akademis mereka. Dalam kondisi rapuh seperti ini, kehadiran dan dukungan dari teman sebaya menjadi benteng perlindungan paling awal yang bisa diakses korban.
Banyak korban bullying memilih bungkam karena merasa takut atau malu melapor ke guru maupun orang tua. Mereka justru lebih percaya pada teman seusianya. Dukungan sederhana dari seorang teman—seperti mendengarkan tanpa menghakimi—dapat membuat korban merasa aman, tidak sendirian, dan perlahan memulihkan rasa percaya diri yang hilang.
Tanpa intervensi dari teman di sekitarnya, perundungan berpotensi berlanjut dan semakin parah. Oleh karena itu, peran aktif siswa untuk tidak menjadi penonton pasif menjadi kunci utama dalam menekan angka kekerasan di sekolah.
Langkah pertama yang paling sederhana namun berdampak besar adalah menunjukkan empati. Mendekati teman yang menjadi korban, menanyakan kabarnya, dan mendengarkan ceritanya tanpa interupsi atau penilaian adalah bentuk dukungan yang sangat berarti. Korban sering kali menyalahkan diri sendiri, sehingga kehadiran teman yang peduli dapat menghentikan siklus perasaan tidak berdaya itu.
Ketika menyaksikan langsung aksi perundungan, siswa tidak boleh berdiam diri. Jika situasi memungkinkan, tegurlah pelaku dengan sopan namun tegas untuk menunjukkan bahwa perilaku tersebut tidak bisa ditoleransi. Apabila kondisi tidak aman, langkah paling bijak adalah membantu korban menjauh dari lokasi kejadian dan segera melapor kepada guru, wali kelas, atau konselor sekolah.
Melapor bukanlah tindakan mengadu, melainkan upaya melindungi korban dan mencegah perundungan terulang kembali. Siswa juga bisa mendampingi korban saat proses pelaporan jika ia merasa takut melakukannya sendiri.
Bullying kerap meruntuhkan rasa percaya diri korban. Teman dapat membantu memulihkannya dengan mengajak korban melakukan aktivitas positif—seperti berolahraga, membaca, atau mengikuti kegiatan sekolah yang menyenangkan. Memberikan semangat dan meyakinkan bahwa ia berharga serta tidak pantas diperlakukan buruk adalah langkah pemulihan emosional yang efektif.
Namun, penting untuk diingat bahwa membela teman bukan berarti membalas dendam dengan kekerasan. Tindakan balas dendam hanya akan memperkeruh suasana dan berpotensi menimbulkan masalah baru. Solusi yang lebih bijak adalah melapor dan mencari jalan keluar melalui pihak berwenang di sekolah.
Dalam jangka panjang, siswa bisa berinisiatif menciptakan lingkungan sekolah yang lebih peduli. Membentuk komunitas anti-bullying, mengadakan kampanye "Stop Bullying", atau membuat poster edukatif tentang saling menghormati adalah langkah kecil yang bisa memicu perubahan besar. Dengan begitu, sekolah benar-benar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan ramah bagi semua siswa tanpa terkecuali.