KENDARI — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memastikan pembangunan SMA Unggul Garuda Sulawesi Tenggara (Sultra) tidak molor dari jadwal. Wakil Menteri Stella Christie meninjau langsung lokasi di Desa Lebo Jaya, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, untuk memverifikasi progres di lapangan.
Meski dihadapkan pada tantangan geoteknik lahan dan kenaikan harga material bangunan, Stella menyebut pembangunan tetap berjalan tepat waktu. "Kita membangunnya tepat waktu walaupun di tengah keadaan geoteknik yang cukup sulit, harga minyak dan bahan baku yang juga menantang," ujarnya di Kendari, Jumat (5/6/2026).
Dari hasil peninjauan, rata-rata progres konstruksi mencapai 60 persen. Namun, Stella menekankan bahwa 40 persen pekerjaan yang tersisa sebagian besar merupakan pekerjaan finishing. Beberapa bangunan inti bahkan menunjukkan perkembangan signifikan.
"Kalau dilihat di lapangan sebenarnya sudah hampir jadi. Bahkan ada rumah guru yang progresnya sudah mendekati 90 persen," ungkapnya. Selain rumah guru, bangunan sekolah inti, asrama putra, dan rumah kepala sekolah juga menunjukkan kemajuan pesat.
Stella menegaskan bahwa seluruh proses seleksi untuk tahun ajaran perdana telah rampung. Penerimaan siswa tidak menggunakan sistem zonasi, melainkan seleksi nasional berbasis prestasi akademik dengan tambahan afirmasi bagi siswa kurang mampu dan dari daerah 3T.
"Yang akan beroperasi tahun ajaran 2026-2027 semuanya sudah dipilih. Siswanya sudah dipilih, gurunya sudah dipilih, termasuk dua kepala sekolah," kata Stella. Ia menambahkan, seluruh siswa yang diterima akan mendapatkan pembiayaan penuh dari pemerintah.
Program SMA Unggul Garuda dirancang untuk menjaring putra-putri terbaik bangsa yang terkendala ekonomi. Sekolah ini tidak hanya membangun infrastruktur baru, tetapi juga mentransformasi sekolah existing melalui skema Sekolah Garuda Transformasi.
"Tahun lalu ada 12 Sekolah Garuda Transformasi dan tahun ini bertambah 30 sekolah lagi. Hasilnya sudah terlihat karena ada siswa yang diterima di Oxford, Berkeley, hingga Northwestern University," ungkap Stella. Ia menekankan slogan sekolah ini adalah "Wawasan Global, Kepekaan Lokal", di mana siswa dari berbagai daerah di Indonesia akan belajar bersama.
"Ini mungkin pertama kalinya dalam sejarah Indonesia membangun sekolah negeri dengan standar akademik terbaik dan memberikan pembiayaan penuh kepada siswa agar mereka siap bersaing masuk perguruan tinggi terbaik di dunia," pungkasnya.