SULAWESI TENGGARA — COO Danantara sekaligus Kepala Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) Dony Oskaria mengungkapkan, dari total 48 anak usaha yang dipangkas, sebanyak 14 perusahaan akan ditutup, sementara sisanya dimerger atau digabung. Proses ini ditargetkan rampung pada akhir tahun depan.
"Kan banyak konsolidasi. Misalkan kayak fiber optic, itu nanti terkonsol ada beberapa perusahaan yang jadi satu, kan size-nya jadi besar, karyawannya ikut. Kan banyaknya merger," ujar Dony ditemui usai rapat tertutup dengan Komisi VI DPR RI, Senin (8/6).
Sebelumnya, Dony bertemu dengan Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, pada 25 Mei lalu. Dalam pertemuan itu, Telkom memaparkan sejumlah langkah strategis yang tengah dijalankan, mulai dari merger, divestasi, likuidasi, hingga pembentukan enterprise holding baru.
"Transformasi ini penting untuk memperkuat fokus bisnis dan memastikan Telkom Group bergerak lebih agile dalam menjawab kebutuhan ekosistem digital nasional," kata Dony dalam keterangan resmi.
Sebagai bagian dari agenda tersebut, sejumlah program prioritas terus dipercepat. Termasuk konsolidasi FiberCo BUMN, pengembangan pusat data (data center), TowerCo, dan InfraCo. Penataan lisensi Telkom Group juga dilakukan untuk mendukung transformasi menuju strategic holding digital yang lebih adaptif dan berdaya saing global.
Dengan penyusutan jumlah entitas ini, Telkom berharap bisa mengelola sumber daya lebih efisien dan memperkuat posisinya di tengah persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat. Keputusan ini juga menjadi sinyal bahwa BUMN telekomunikasi tersebut serius melakukan efisiensi tanpa mengorbankan tenaga kerja.