SULAWESI TENGGARA — Kisah Niu Lai menjadi fenomena tak terduga di box office China musim panas 2026. Film animasi berdurasi 86 menit yang awalnya dihujat karena kualitas visualnya justru meledak berkat viralnya meme di media sosial, menggeser perhatian publik dari film-film besar seperti The Odyssey arahan Christopher Nolan dan Spider-Man: Brand New Day.
Niu Lai bercerita tentang petualangan seekor anak sapi yang berjuang menjadi pejuang, ditemani oleh seekor burung skylark. Xin Yumeng, kreator film ini, menegaskan dirinya sengaja memprioritaskan kekuatan alur narasi dibandingkan detail visual yang sempurna.
Menurut Xin, menghabiskan energi untuk memoles visual hanya akan membuat film ini tidak pernah selesai. Keputusan ini diambil di tengah kritik pedas yang menyebut animasinya terlalu kasar dan penceritaannya canggung.
Xin Yumeng, yang sebelumnya berprofesi sebagai desainer interior, mempelajari animasi secara otodidak tanpa latar belakang pendidikan perfilman. Ia mengerjakan hampir seluruh aspek teknis—pemodelan, pencahayaan, hingga penyuntingan—seorang diri.
Proses produksi memakan waktu lima tahun. Ibunya, Sun Lifang, belajar menulis naskah sekaligus mengisi suara untuk karakter-karakter perempuan. Seluruh peralatan produksi dirakit dari komputer bekas yang dibeli melalui platform jual-beli barang bekas lokal, Xianyu.
Film ini rilis perdana pada 5 Agustus tanpa trailer atau materi promosi resmi. Hari pertama penayangan hanya menggaet 236 penonton, setara dengan 7.169 yuan atau sekitar Rp18,9 juta. Angka ini sangat kecil untuk standar box office China, salah satu pasar film terbesar dunia.
Ketiadaan poster promosi membuat staf salah satu bioskop di Beijing menggambar poster manual menggunakan pulpen. Alih-alih menuliskan detail film, poster itu memuat peringatan jenaka seperti "Datanglah jika kamu suka hal aneh" dan "Tidak bisa pengembalian uang".
Media resmi pemerintah, Beijing News, sempat memicu kemarahan publik. Mereka menuding pihak bioskop menurunkan standar kualitas dan mengorbankan kepercayaan penonton demi mengejar tren viral dari film yang dianggap tidak layak tayang.
Kritik tersebut justru menjadi titik balik. Potongan gambar visual Niu Lai yang dinilai buruk menyebar luas di media sosial, mendorong rasa penasaran publik untuk membuktikan kualitas film secara langsung. Budaya meme dan lelucon netizen membuat penonton berbondong-bondong membeli tiket.
Pengelola bioskop merespons dengan menambah jam tayang secara masif. Hasilnya, pendapatan Niu Lai melesat drastis menjadi 5,6 juta yuan atau sekitar Rp14,84 miliar dalam sehari pada Minggu (16/8).
Di tengah sorotan publik, Xin Yumeng mengungkapkan proyek film animasi berikutnya berjudul Yang Gao (Sheep High) sudah masuk tahap produksi. Ia berjanji proses pengerjaan karya terbarunya ini tidak akan memakan waktu hingga lima tahun seperti film pertamanya.
Fenomena Niu Lai membuktikan bahwa film independen dengan sumber daya terbatas masih bisa bersaing di pasar yang didominasi produksi besar, selama mampu memanfaatkan kekuatan komunitas digital dan keunikan cerita.