SULAWESI TENGGARA — Berdasarkan sumber yang dikutip Bloomberg, Shein telah secara diam-diam mengajukan dokumen awal ke regulator bursa Hong Kong pada awal 2025. Namun, proses tersebut sempat tertunda akibat ketidakpastian kebijakan tarif AS dan gejolak pasar global. Kini, dengan membaiknya sentimen investor, perusahaan yang bermarkas di Singapura itu kembali mengaktifkan rencana penawaran saham perdananya.
Mengapa Hong Kong Jadi Pilihan Akhir
Pilihan Hong Kong bukan tanpa alasan. Setelah IPO di London pada awal 2025 gagal mencapai valuasi yang diharapkan akibat kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik, Shein memutar haluan. Hong Kong dinilai memiliki basis investor yang lebih memahami model bisnis e-commerce dan rantai pasok China.
"Hong Kong memberikan akses ke investor institusi Asia yang sangat cair dan memahami industri fast-fashion," ujar seorang sumber yang dekat dengan proses listing. "Selain itu, jarak geografis dan regulasi yang lebih akrab bagi manajemen Shein menjadi nilai tambah."
Valuasi dan Target Dana: Realistis atau Terlalu Ambisius?
Target dana USD 2-3 miliar yang ingin diraup Shein terbilang lebih rendah dari rencana awal yang sempat menyentuh USD 10 miliar. Penurunan ini mencerminkan koreksi valuasi di sektor teknologi dan ritel global. Meski demikian, angka tersebut tetap menjadikan IPO Shein sebagai salah satu yang terbesar di Asia pada 2025.
Analis memperkirakan valuasi perusahaan bisa mencapai USD 64 miliar pasca-IPO, turun dari puncak valuasi USD 100 miliar pada 2022. Tekanan datang dari perlambatan pertumbuhan di pasar AS dan Eropa, serta persaingan ketat dari platform seperti Temu dan Zara.
Fundamental Bisnis: Pertumbuhan Melambat, Margin Terjepit
Dari sisi fundamental, Shein masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan dua digit, meski lajunya melambat signifikan. Margin laba bersih perusahaan juga tertekan akibat biaya logistik yang tinggi dan diskon besar-besaran untuk mempertahankan pangsa pasar.
Namun, keunggulan Shein terletak pada model produksi ultra-cepat dan rantai pasok yang terintegrasi penuh di Guangzhou, China. Kemampuan meluncurkan ribuan produk baru setiap hari tetap menjadi moat kompetitif yang sulit ditiru pesaing.
Apa Artinya bagi Pasar dan Investor Indonesia
Bagi investor Indonesia, IPO Shein di Hong Kong membuka peluang diversifikasi ke saham ritel global dengan likuiditas tinggi. Namun, risiko regulasi dan ketergantungan pada rantai pasok China tetap menjadi catatan. "Investor ritel Indonesia bisa mengakses saham ini melalui broker yang terhubung ke Bursa Hong Kong," kata seorang analis pasar modal. "Tapi perlu diingat, valuasinya masih premium dan volatilitasnya tinggi."
Keberhasilan IPO Shein juga akan menjadi barometer bagi startup Asia lainnya yang menunda listing. Jika respons investor positif, gelombang IPO dari perusahaan teknologi dan e-commerce Asia diperkirakan akan mengikuti.