SULAWESI TENGGARA — Pemerintah terus menggenjot pembangunan infrastruktur sumber daya alam sebagai fondasi swasembada pangan. Dalam seremoni yang berlangsung di Istana Negara, Senin (17/2), Presiden Prabowo meresmikan lima bendungan yang tersebar dari Aceh hingga Bali. Dua di antaranya, Bendungan Sidan dan Bendungan Keureuto, dikerjakan oleh kontraktor pelat merah Brantas Abipraya.
Bendungan Sidan: Andalan Baru Pasokan Air dan Irigasi Bali
Bendungan Sidan yang membentang di perbatasan Kabupaten Badung dan Gianyar, Bali, memiliki kapasitas tampung mencapai 8,2 juta meter kubik. Proyek ini dirancang untuk mengairi lahan pertanian seluas 1.355 hektare dan menyuplai air baku 0,75 meter kubik per detik ke wilayah Denpasar dan sekitarnya.
Manajemen Brantas Abipraya menyebut bendungan ini juga berfungsi sebagai pengendali banjir di hilir Sungai Sidan. “Kami bangga dapat berkontribusi langsung pada ketahanan pangan Pulau Dewata. Infrastruktur ini bukan sekadar beton, melainkan denyut nadi ekonomi pertanian dan pariwisata,” ujar Direktur Utama Brantas Abipraya, Sugeng Rochadi, dalam keterangan resmi.
Bendungan Keureuto: Mengairi Ratusan Hektare Sawah di Aceh Utara
Sementara di ujung barat Indonesia, Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara menjadi proyek terbesar yang digarap perseroan di kawasan tersebut. Dengan daya tampung 216,8 juta meter kubik, bendungan ini mampu mengairi areal persawahan seluas 9.248 hektare dan menyediakan air baku 1,5 meter kubik per detik.
Proyek senilai Rp 1,9 triliun ini juga dilengkapi pembangkit listrik mini berkapasitas 1,4 megawatt. Brantas Abipraya menargetkan konstruksi rampung sesuai jadwal agar petani di kawasan Panton Labu dan sekitarnya bisa segera menikmati pasokan air irigasi yang stabil sepanjang musim.
Target Pemerintah: 61 Bendungan Baru untuk Swasembada Pangan
Peresmian kelima bendungan ini adalah bagian dari program besar pemerintah yang menargetkan pembangunan 61 bendungan baru hingga 2029. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa setiap bendungan yang dibangun harus terintegrasi dengan sistem irigasi tersier agar dampaknya langsung dirasakan petani.
Bagi Brantas Abipraya, proyek-proyek ini memperkuat posisi mereka sebagai salah satu kontraktor BUMN spesialis infrastruktur sumber daya air. Dengan portofolio bendungan yang terus bertambah, perseroan optimistis dapat menopang target pemerintah mengurangi impor pangan dan menekan risiko gagal panen akibat kekeringan.