Benteng-benteng peninggalan Kesultanan Buton dan Ternate masih berdiri kokoh di pesisir Sulawesi Tenggara. Namun, banyak wisatawan lokal yang lebih akrab dengan pantai dan wisata bawah laut ketimbang situs sejarah yang menyimpan narasi perlawanan dan perdagangan rempah. Bagi perantau atau pelancong yang ingin merasakan atmosfer masa lalu, wilayah ini menawarkan lebih dari sekadar panorama alam.
Artikel ini merangkum tujuh destinasi bersejarah di Sulawesi Tenggara. Mulai dari benteng terluas di dunia hingga kompleks makam kerajaan, setiap lokasi memiliki cerita yang bisa Anda gali langsung di tempat.
1. Benteng Keraton Buton, Benteng Terluas di Dunia
Benteng ini terletak di pusat Kota Baubau, tepatnya di Kelurahan Wolio. Dibangun pada abad ke-16 oleh Kesultanan Buton, benteng ini mencatatkan rekor sebagai benteng dengan area terluas di dunia versi Museum Rekor Indonesia (MURI). Keliling benteng mencapai 2,7 kilometer dengan tinggi dinding batu kapur yang menjulang.
Di dalam area benteng, Anda bisa menemukan Masjid Keraton Buton dan bekas istana sultan. Pemandangan dari atas benteng menghadap langsung ke Laut Banda. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari sebelum pukul 09.00 WITA untuk menghindari terik matahari. Pastikan Anda membawa air minum karena area berjalan cukup luas.
2. Kompleks Makam Raja-Raja Konawe
Berlokasi di Kecamatan Unaaha, Kabupaten Konawe, kompleks pemakaman ini menjadi sakbisanya sejarah Kerajaan Konawe. Makam-makam batu dengan ukiran khas Suku Tolaki tersebar di area terbuka. Beberapa nisan memiliki bentuk menyerupai perahu yang melambangkan kepercayaan masyarakat lokal terhadap perjalanan arwah.
Lokasi ini tidak selalu ramai pengunjung, sehingga Anda bisa berkeliling dengan tenang. Disarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal yang biasanya mangkal di sekitar area parkir agar mendapat penjelasan detail tentang siapa saja yang dimakamkan di sini. Jangan lupa menjaga kesopanan karena area ini masih digunakan untuk upacara adat tertentu.
3. Benteng Otanaha, Peninggalan Portugis di Danau Limboto
Meski namanya mirip dengan benteng di Gorontalo, Benteng Otanaha di Sulawesi Tenggara berlokasi di pesisir Danau Limboto, Kabupaten Kolaka. Benteng ini dibangun pada abad ke-16 oleh tentara Portugis yang bekerja sama dengan Kerajaan Mekongga. Struktur dindingnya terbuat dari batu karang dan kapur yang direkatkan dengan putih telur—teknik konstruksi khas Eropa pada masa itu.
Untuk mencapai benteng, Anda harus menaiki 345 anak tangga. Pemandangan dari atas menampilkan perpaduan hijau perbukitan dan biru danau. Cek kondisi cuaca sebelum berangkat karena tangga bisa licin saat hujan. Tidak ada tiket masuk resmi, hanya biaya parkir sukarela yang dikelola warga sekitar.
4. Istana Malige, Rumah Adat Buton Berusia Ratusan Tahun
Istana Malige berada di Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum, Kota Baubau. Bangunan kayu jati bertingkat tiga ini dibangun tanpa menggunakan paku besi—semua sambungan menggunakan pasak kayu. Istana ini difungsikan sebagai tempat tinggal bangsawan Kesultanan Buton pada abad ke-18.
Di dalamnya, Anda bisa melihat koleksi piring keramik Tiongkok, senjata tradisional, dan singgasana sultan. Arsitektur rumah panggung khas Buton membuat udara di dalam bangunan tetap sejuk meski siang hari. Pengunjung dilarang menyentuh benda koleksi secara langsung. Fotografi diperbolehkan tanpa flash.
5. Makam La Ode Malim, Tokoh Perlawanan Kolonial
La Ode Malim adalah pemimpin perlawanan rakyat Muna terhadap pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Makamnya terletak di Desa Watorumbe, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan. Kompleks makam dikelilingi pagar batu dan dihiasi bendera kuning yang melambangkan status kesakralan.
Setiap tahun, warga setempat mengadakan upacara adat untuk memperingati perjuangannya. Jika Anda berkunjung di luar musim upacara, suasana di sekitar makam sangat tenang. Tidak ada petugas khusus, tetapi warga sekitar biasanya ramah menunjukkan jalan. Akses menuju lokasi melewati jalan desa yang beraspal, namun cukup sempit untuk kendaraan besar.
6. Benteng Kaledupa, Situs Pertahanan di Atas Bukit
Berada di Pulau Kaledupa, Kepulauan Wakatobi, benteng ini dibangun oleh Kesultanan Buton sebagai pos pengawasan jalur pelayaran. Lokasinya di atas bukit dengan pemandangan langsung ke laut lepas. Dinding benteng terbuat dari batu karang yang disusun rapi tanpa perekat.
Perjalanan menuju benteng membutuhkan trekking sekitar 30 menit dari dermaga. Sepatu trekking sangat disarankan karena jalurnya berbatu dan menanjak. Karena berada di kawasan konservasi laut, pastikan Anda tidak membuang sampah sembarangan. Waktu terbaik untuk trekking adalah pagi hari agar sisa hari bisa digunakan untuk snorkeling di sekitar Wakatobi.
7. Rumah Adat Banua Tada, Situs Budaya Suku Tolaki
Rumah adat Banua Tada dapat ditemukan di Desa Lahundape, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari. Bangunan ini merupakan replika rumah tradisional Suku Tolaki yang dibangun dengan atap berbentuk perahu terbalik. Di dalamnya, tersimpan alat musik tradisional, pakaian adat, dan perlengkapan upacara.
Pengelola situs biasanya membuka tempat ini untuk kunjungan rombongan dengan perjanjian terlebih dahulu. Untuk kunjungan individu, datanglah pada hari kerja karena akhir pekan sering digunakan untuk acara adat. Tidak ada biaya masuk, namun donasi untuk perawatan bangunan sangat diterima.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua lokasi ini bisa dikunjungi dalam satu hari?
Tidak. Benteng Keraton Buton dan Istana Malige bisa dijelajahi dalam setengah hari karena lokasinya berdekatan di Kota Baubau. Untuk benteng di Kaledupa atau Makam La Ode Malim, Anda perlu menyisihkan waktu perjalanan yang lebih lama.
Apakah ada biaya masuk untuk situs-situs ini?
Sebagian besar situs tidak memungut tiket masuk resmi. Beberapa lokasi seperti Benteng Otanaha dan Rumah Adat Banua Tada hanya meminta biaya parkir atau donasi sukarela. Cek langsung ke tempatnya untuk informasi terkini.
Transportasi apa yang paling mudah untuk berkeliling?
Untuk di Kota Baubau dan Kendari, ojek online dan taksi tersedia. Untuk ke Pulau Kaledupa, Anda perlu naik kapal feri dari Pelabuhan Bajoe di Kota Baubau. Sewa mobil dengan sopir lokal bisa menjadi pilihan untuk menjangkau situs di Kabupaten Konawe dan Buton Selatan.
Apakah situs-situs ini ramah untuk anak-anak?
Benteng Keraton Buton dan Istana Malige cukup ramah karena aksesnya datar. Benteng Otanaha dengan 345 anak tangga tidak disarankan untuk balita. Kompleks Makam Raja-Raja Konawe memiliki area yang cukup luas untuk anak berlari, namun tetap awasi mereka karena area makam memiliki batu-batu yang tidak rata.
Kapan waktu terbaik dalam setahun untuk berkunjung?
Musim kemarau antara April hingga Oktober memberikan cuaca yang lebih bersahabat. Hindari Desember hingga Maret karena curah hujan tinggi yang bisa membuat akses jalan ke situs-situs di perbukitan menjadi licin dan berbahaya.
Mengunjungi situs sejarah di Sulawesi Tenggara bukan sekadar berfoto di bangunan tua. Setiap batu, makam, dan benteng menyimpan narasi tentang perdagangan rempah, perlawanan terhadap kolonialisme, dan akulturasi budaya yang membentuk identitas masyarakat Buton, Tolaki, dan Muna. Sebelum berangkat, pastikan Anda sudah mengecek jam operasional terbaru melalui media sosial resmi pemerintah daerah setempat atau bertanya langsung kepada warga sekitar.