SULAWESI TENGGARA — Sekitar satu dari lima anak usia sekolah di Indonesia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, menurut laporan UNICEF 2024. Kenali penyebab, risiko kesehatan, dan langkah pencegahan yang bisa ibu terapkan di rumah lewat panduan berikut.
Data WHO 2024 mencatat sekitar 400 juta anak dan remaja usia 5–19 tahun di dunia mengalami kelebihan berat badan, dan 170 juta di antaranya hidup dengan obesitas. Angka UNICEF Indonesia pada tahun yang sama menunjukkan satu dari lima anak usia sekolah di Tanah Air berada dalam kondisi serupa.
Obesitas bukan sekadar soal bentuk tubuh. Kondisi ini menyangkut penumpukan lemak berlebih yang bisa mengganggu tumbuh kembang anak, kesehatan fisik, hingga kondisi psikologisnya dalam jangka panjang.
Mengapa Berat Badan Anak Tidak Bisa Dinilai dari Timbangan Saja
Anak masih dalam masa pertumbuhan, jadi berat badan yang naik belum tentu tanda obesitas. Penilaian status gizi perlu mempertimbangkan usia, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan sekaligus.
Dokter biasanya memakai indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U) dan kurva pertumbuhan untuk menentukan apakah berat anak masuk kategori normal, berlebih, atau obesitas. Pemeriksaan dengan standar ini penting agar penilaiannya tepat, bukan sekadar menebak dari penampilan.
4 Faktor yang Meningkatkan Risiko Obesitas Anak
Obesitas pada anak tidak muncul karena satu sebab. Kondisi ini lahir dari interaksi pola makan, aktivitas fisik, faktor genetik, kebiasaan keluarga, dan lingkungan sehari-hari.
1. Makanan dan Minuman Tinggi Kalori
Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak seperti makanan cepat saji, camilan kemasan, dan minuman manis membuat asupan energi harian melonjak. Jika berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi kebutuhan tubuh, lemak pun menumpuk.
Minuman manis perlu diwaspadai tersendiri. Kalorinya bisa bertambah banyak tanpa membuat anak merasa kenyang seperti saat makan makanan padat.
2. Kurang Aktivitas Fisik
Kemudahan akses hiburan lewat televisi, ponsel, dan perangkat digital membuat anak lebih banyak duduk. Waktu di depan layar yang panjang menggeser kesempatan bermain aktif, berolahraga, dan bergerak.
Padahal aktivitas fisik mendukung kesehatan tubuh, perkembangan otot dan tulang, serta kebugaran anak. Semakin sedikit gerak, semakin sedikit pula energi yang dibakar.
3. Kebiasaan Makan dalam Keluarga
Pilihan menu harian, kebiasaan membeli makanan, dan pola aktivitas orang tua membentuk perilaku anak. Anak cenderung meniru apa yang dilakukan keluarganya, bukan apa yang diperintahkan.
Karena itu, pencegahan obesitas lebih efektif bila seluruh anggota keluarga ikut menerapkan hidup sehat. Meminta anak mengubah pola makan sendirian biasanya tidak bertahan lama.
4. Faktor Genetik dan Kondisi Medis Tertentu
Anak dengan orang tua yang mengalami obesitas punya risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Namun gen bukan penentu tunggal, karena lingkungan dan kebiasaan sehari-hari tetap berperan besar.
Pada sebagian kasus, kondisi medis atau penggunaan obat tertentu memengaruhi berat badan. Bila ada kenaikan berat badan tidak biasa disertai keluhan lain, sebaiknya konsultasikan ke tenaga kesehatan.
Risiko Kesehatan yang Mengintai
Obesitas yang dibiarkan meningkatkan risiko gangguan metabolik, termasuk kadar gula darah naik, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tidak normal. Dalam jangka panjang, kondisi ini memperbesar risiko diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.
Masalah pernapasan saat tidur seperti obstructive sleep apnea juga bisa muncul, begitu pula keluhan pada persendian akibat beban tubuh berlebih. Pada beberapa anak, kondisi ini mengganggu kenyamanan beraktivitas dan menurunkan kualitas tidur.
Dampak psikologisnya tak kalah serius. Anak dengan obesitas berisiko menghadapi ejekan, perundungan, atau stigma soal bentuk tubuhnya. Pengalaman itu bisa memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, dan kesehatan mental.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter
Bawa anak ke dokter bila berat badannya naik tajam dalam waktu singkat, disertai keluhan seperti mudah lelah, sesak, atau mengorok saat tidur. Konsultasi juga diperlukan jika anak mengalami kesulitan bernapas saat aktivitas atau nyeri sendi.
Pemeriksaan rutin ke posyandu atau dokter anak membantu memantau pertumbuhan anak sejak dini. Jangan menunda bila ibu merasa ada perubahan berat badan yang tidak wajar.
Menjaga berat badan anak ideal bukan soal menurunkan angka di timbangan, melainkan membangun kebiasaan keluarga yang sehat. Mulai dari menu harian, waktu bermain aktif, hingga cara keluarga menghargai tubuh anak.