SULAWESI TENGGARA — Presiden Direktur PTFI Tony Wenas membeberkan peta jalan pemulihan tambang bawah tanah terbesar di dunia itu di kompleks DPR RI, Selasa (10/6/2026). Ia menyebutkan perbaikan GBC akan menyentuh 65 persen pada semester II-2026, lalu meningkat ke 75 persen pada semester I-2027, dan rampung 100 persen menjelang akhir 2027.
“Semester kedua ini bisa 65%. Semester pertama tahun depan itu bisa 75% dan menjelang akhir tahun itu menuju ke 100%,” kata Tony di hadapan awak media.
Longsor yang melanda GBC membuat operasi tambang bawah tanah Freeport terganggu sejak beberapa waktu lalu. Perbaikan dilakukan secara bertahap mengingat kompleksitas geologi dan sistem penambangan block cave yang memerlukan presisi tinggi.
Jika target tercapai, produksi tembaga dan emas Freeport baru akan kembali ke level normal pada 2028. Selama masa transisi, pasokan konsentrat dari tambang terbuka dan stok yang ada akan menjadi penyangga utama operasional smelter.
Di sisi hilir, Tony memastikan smelter katoda tembaga di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik, bakal beroperasi pada kuartal III-2026. Smelter ini sempat menjalani masa pemeliharaan dan penyesuaian teknis pasca-tahap commissioning.
Pengoperasian kembali smelter menjadi krusial karena pemerintah mewajibkan Freeport memurnikan konsentrat di dalam negeri. Kegagalan memenuhi tenggat operasi smelter berpotensi memicu sanksi berupa bea keluar atau pembatasan ekspor konsentrat.
Sejauh ini, Freeport telah menginvestasikan miliaran dolar untuk smelter Gresik yang dirancang memiliki kapasitas produksi 1,7 juta ton katoda tembaga per tahun. Smelter ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia dan bagian dari komitmen hilirisasi tambang nasional.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mengawal progres perbaikan GBC dan operasional smelter. Kebijakan larangan ekspor konsentrat tembaga yang mulai berlaku penuh membuat setiap keterlambatan operasi smelter berpotensi mengganggu penerimaan negara.
Freeport sendiri merupakan salah satu kontributor terbesar pendapatan negara dari sektor minerba. Setiap gangguan produksi di hulu maupun hilir berdampak langsung pada setoran pajak, dividen, dan royalti.
Tony optimistis jadwal pemulihan GBC dan smelter dapat dipenuhi. Namun, ia mengingatkan bahwa faktor teknis di lapangan—seperti kondisi batuan dan sistem ventilasi tambang bawah tanah—bisa memengaruhi percepatan atau perlambatan target.