Prosesor TV Pintar Ternyata Jauh Lebih Lambat dari Chip Ponsel Flagship, Ini Dampaknya bagi Konsumen

Penulis: Saiful  •  Kamis, 11 Juni 2026 | 17:10:01 WIB
Prosesor smart TV kelas menengah 2024-2025 masih menggunakan arsitektur chip lawas dari 2017-2018.

Produsen TV kelas atas seperti Samsung, LG, dan Sony berlomba-lomba menawarkan panel OLED, mini-LED, refresh rate 120Hz, hingga fitur gaming VRR. Namun di balik layar mengkilap itu, jantung pengendali operasinya—system-on-chip (SoC)—seringkali merupakan desain lawas yang sama dengan yang dipakai di TV kelas menengah tiga tahun lalu.

Seorang jurnalis teknologi yang menelusuri spesifikasi chip di puluhan model TV menemukan bahwa sebagian besar smart TV 2024-2025 masih mengandalkan prosesor berbasis arsitektur ARM Cortex-A55 atau A73, yang pertama kali dirilis pada 2017-2018. Sebagai perbandingan, chipset ponsel flagship 2024 seperti Snapdragon 8 Gen 3 sudah menggunakan Cortex-X4 dan A720 yang jauh lebih bertenaga.

Mengapa TV Rp 20 Juta Terasa Lebih Lambat dari Ponsel Rp 5 Juta

Perbedaan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Prosesor TV yang lambat menyebabkan waktu loading aplikasi streaming seperti Netflix, YouTube, atau Disney+ Hotstar bisa 2-3 detik lebih lama. Animasi menu terasa patah-patah, dan perintah suara sering mengalami jeda respons yang mengganggu.

Alasan utama produsen enggan memasang chip terbaru adalah biaya dan rantai pasok. Panel TV sudah menyumbang 60-70 persen dari total biaya produksi. Menambahkan SoC flagship seperti MediaTek Pentonic 2000 yang mendukung HDMI 2.1 penuh dan AI upscaling generasi terbaru bisa menaikkan harga jual hingga 15-20 persen—angka yang sulit diterima pasar massal.

Dampak Nyata bagi Pengguna Indonesia

Di Indonesia, di mana smart TV menjadi pusat hiburan keluarga, kelambatan ini terasa lebih krusial. Banyak pengguna mengeluhkan aplikasi OTT yang crash atau buffering bukan karena koneksi internet, melainkan karena prosesor TV tidak sanggup menangani decoding codec video terbaru seperti AV1 secara efisien.

“Saya membeli TV Sony X90L seharga Rp 17 juta, tapi membuka Google Play Store butuh 10 detik. Padahal ponsel saya yang Rp 4 juta bisa membuka aplikasi yang sama dalam 2 detik,” ujar seorang anggota forum komunitas audio-visual Indonesia dalam diskusi daring pekan lalu.

Panel Hebat, Otak Lemah: Strategi Produsen yang Perlu Dipertanyakan

Strategi ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Produsen TV berargumen bahwa konsumen lebih peduli pada kualitas gambar daripada kecepatan menu. Argumen itu mulai goyah ketika smart TV kini berfungsi sebagai pusat komando rumah pintar, menjalankan berbagai aplikasi berat secara simultan.

LG dan Samsung sudah mulai merespons dengan memperkenalkan chipset generasi baru pada lini TV flagship 2025 mereka, seperti LG Alpha 10 dan Samsung NQ4 AI Gen3. Namun perubahan ini baru terjadi di segmen harga di atas Rp 25 juta. Untuk TV di kisaran Rp 10-20 juta—yang paling laris di Indonesia—konsumen masih harus menerima prosesor lawas.

Bagi yang sudah terlanjur membeli, solusi sementara adalah menggunakan perangkat streaming eksternal seperti Apple TV 4K atau Nvidia Shield yang memiliki prosesor jauh lebih cepat. Tapi ini tentu menambah biaya dan satu remote lagi di meja tamu.

Reporter: Saiful
Sumber: xda-developers.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top