Banjir Bandang Sumatra Utara Tewaskan 58 Orang Utan Tapanuli, Populasi Tersisa 800 Ekor

Penulis: Sutomo  •  Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:22:32 WIB
Orang utan Tapanuli terdampak banjir bandang di Hutan Batang Toru, Sumatra Utara.

SULAWESI TENGGARA — Bencana hidrometeorologi yang menerjang kawasan Sumatra Utara pada penghujung tahun lalu membawa dampak fatal bagi kelestarian satwa endemik. Dari total populasi orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang hanya menghuni Hutan Batang Toru, sebanyak 58 ekor dipastikan hilang dan diduga mati akibat terjangan banjir bandang serta longsor.

Kehilangan 7 Persen Populasi dalam Sekejap

Data yang dihimpun dari para ilmuwan menyebutkan bahwa populasi spesies yang teridentifikasi sebagai spesies baru pada 2017 ini kini hanya tersisa sekitar 800 individu. Artinya, bencana alam tersebut telah memangkas hampir tujuh persen dari total populasi dalam waktu singkat.

Hilangnya puluhan individu dalam satu peristiwa menjadi pukulan berat bagi upaya konservasi. Sebab, orang utan Tapanuli memiliki tingkat reproduksi yang sangat lambat, dengan betina hanya melahirkan satu bayi setiap 8-9 tahun.

Habung Batang Toru: Zona Merah Bencana

Hutan Batang Toru yang membentang di kawasan Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Sibolga menjadi salah satu wilayah dengan dampak bencana paling parah. Topografi perbukitan terjal dan intensitas hujan ekstrem pada periode November-Desember memicu longsor besar yang merusak kanopi hutan sebagai rumah bagi primata tersebut.

Bencana ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dari populasi orang utan, tetapi juga merusak sumber pakan alami mereka, seperti buah-buahan hutan dan dedaunan. Fragmentasi habitat akibat longsor juga berpotensi mengisolasi kelompok-kelompok kecil, mengancam keberagaman genetik spesies di masa depan.

Spesies Paling Langka di Dunia Kian Terdesak

Orang utan Tapanuli merupakan spesies kera besar paling langka di dunia. Berbeda dengan sepupunya di Kalimantan dan Sumatra bagian utara, spesies ini memiliki rambut lebih keriting, jambul lebih kecil, dan perilaku yang khas. Sebelum bencana, tekanan terbesar terhadap populasi berasal dari deforestasi akibat proyek infrastruktur dan perkebunan.

Peristiwa banjir bandang dan longsor ini menambah daftar panjang ancaman eksistensial bagi spesies endemik tersebut. Para pegiat konservasi kini mendesak adanya peta jalan mitigasi bencana yang terintegrasi dengan tata ruang kawasan hutan lindung Batang Toru.

Tanpa langkah adaptasi yang cepat, setiap kejadian iklim ekstrem di masa depan berpotensi memusnahkan spesies yang telah hidup di ekosistem Batang Toru sejak jutaan tahun lalu ini.

Reporter: Sutomo
Sumber: bbc.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top