Laporan terbaru dari firma riset IDC mengonfirmasi apa yang sudah terasa di industri: kacamata pintar bukan lagi sekadar mainan early adopter. Pada Q1 2026 saja, pengiriman global mencapai 2,25 juta unit—angka yang melesat 167 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini menjadi sinyal paling kuat bahwa perangkat wearable berbentuk kacamata mulai diterima pasar massal.
Dominasi Meta nyaris tak terbantahkan. Dari seluruh kacamata pintar yang terjual di dunia pada kuartal pertama, 69 persen di antaranya adalah Ray-Ban Meta. Jarak dengan pesaing sangat timpang: RayNeo hanya mengantongi 3,4 persen, disusul Xiaomi (3,1 persen), Viture (2,5 persen), dan Xreal (2 persen).
Namun, IDC menilai peta persaingan bisa berubah cepat. Jitesh Ubrani, research manager IDC untuk perangkat mobile, menulis dalam laporan bertajuk Smart Glasses Surge bahwa "the challengers assembling against it are formidable." Dua nama yang disebut paling berbahaya: Google dan Snap.
Google disebut memiliki keunggulan ekosistem yang sulit ditiru. Lewat platform Android XR, raksasa mesin pencari itu bisa langsung mengintegrasikan kacamata pintarnya dengan data pribadi pengguna—dari email, foto, riwayat pencarian, hingga kalender. "When someone puts on a pair of Android XR glasses, the AI assistant doesn't need an introduction," tulis Ubrani. "It already knows you."
Google sendiri dikabarkan akan merilis gelombang perangkat kacamata pintarnya sendiri tahun ini, bergabung dalam perlombaan yang sudah dimulai Meta sejak beberapa tahun lalu.
Sementara itu, Snap—pembuat Spectacles yang sudah berkecimpung di dunia kacamata pintar lebih lama dari Meta—memiliki modal lain. Ubrani mencatat Snap "has tens of thousands of developers who have spent years building AR experiences." Selain itu, Snap juga punya pengalaman nyata dalam soal optik, manajemen panas, dan kenyamanan sosial yang tidak bisa diperoleh instan.
Snap sendiri berencana merilis Spectacles augmented reality generasi terbarunya pada 2026.
Pekan ini, ajang Augmented World Expo (AWE) 2026 di Long Beach, California, akan menjadi panggung utama bagi para pemain industri untuk memamerkan produk terbaru. Selain Google, Meta, dan Snap, sejumlah nama lain juga akan unjuk gigi: Apple dengan evolusi Vision Pro dan suntikan Siri AI ke seluruh perangkatnya, ByteDance lewat headset mixed-reality Pico, serta Valve dengan Steam Frame yang dijadwalkan rilis musim panas ini.
Yang menarik, Google dan Xreal juga disebut tengah mendorong batas baru lewat Project Aura—perangkat seukuran kacamata biasa yang memiliki kemampuan mirip VR. Produk ini diharapkan hadir tahun ini juga.
Di tengah hiruk-pikuk persaingan, satu hal yang diakui IDC sebagai pencapaian langka Meta: "The Ray-Ban Meta lineup has done something rare in consumer tech," tulis Ubrani. "It created a device people are genuinely unafraid to be seen wearing in public."
Faktor desain dan kenyamanan sosial ini menjadi pelajaran berharga bagi para penantang. Sebab, secanggih apa pun teknologi di balik lensa, jika pengguna enggan memakainya di jalan, pasar tidak akan pernah benar-benar terbuka.