KENDARI — Capaian devisa ekspor Sulawesi Tenggara sebesar Rp31,1 triliun pada paruh pertama 2026 menunjukkan kontribusi signifikan sektor sumber daya alam terhadap perekonomian daerah. Namun, struktur ekspor yang masih bergantung pada hasil tambang menjadi perhatian serius bagi pemangku kebijakan.
Meski angka devisa terbilang besar, hampir seluruhnya disumbang oleh komoditas pertambangan. Ketergantungan ini membuat Pemprov Sultra dan instansi terkait terus mendorong diversifikasi melalui produk nonpertambangan.
Langkah konkret yang diambil adalah dengan menggenjot potensi ekspor dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Produk-produk lokal seperti olahan hasil laut, kerajinan, dan komoditas pertanian dinilai memiliki prospek untuk menembus pasar internasional.
Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Kendari tidak hanya mencatat angka devisa, tetapi juga aktif dalam program pendampingan. Sosialisasi prosedur ekspor dan fasilitasi kemudahan perizinan menjadi fokus utama untuk menurunkan hambatan bagi pelaku UMKM yang ingin memulai ekspor.
Upaya ini sejalan dengan kebijakan nasional yang mendorong peningkatan nilai tambah produk dalam negeri. Dengan pembinaan yang tepat, produk UMKM Sultra diharapkan mampu bersaing di pasar global, sehingga ketergantungan pada sektor tambang perlahan dapat dikurangi.
Capaian devisa semester I 2026 ini menjadi modal berharga bagi Sultra untuk memperkuat fundamental ekonomi daerah. Pemerintah optimistis, dengan sinergi antara sektor pertambangan yang sudah mapan dan pengembangan UMKM yang agresif, nilai ekspor dapat terus meningkat.
Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa produk nonpertambangan memiliki standar kualitas yang memenuhi persyaratan negara tujuan ekspor. Dukungan infrastruktur dan akses permodalan bagi UMKM juga menjadi kunci agar diversifikasi ekonomi berjalan efektif dan berkelanjutan.