SULAWESI TENGGARA — Keputusan untuk membawa kembali Hines menjadi sinyal bahwa Ford serius membereskan masalah kualitasnya. Ia akan berbasis di Washington, D.C., dan langsung bertanggung jawab kepada Steve Croley, Chief Policy Officer Ford. Fokus kerjanya meliputi keselamatan produk global, kepatuhan regulasi, tata kelola, dan strategi.
“David’s thirty years of experience in automotive engineering and safety will be an asset to the company as we continue to put quality first,” ujar Croley dalam pernyataannya kepada The Detroit News.
Menariknya, ini bukan kali pertama Hines berkarier di Ford. Sebelum lama mengabdi di NHTSA, ia sempat menjadi product design engineer di Ford pada awal kariernya. Ia ikut mengembangkan SUV Ford Freestyle dan sedan Five Hundred. Ia juga pernah bekerja di Toyota, fokus pada pengembangan eksterior Camry dan Solara.
Selama lebih dari 13 tahun menjabat sebagai direktur Office of Crash Avoidance Standards di NHTSA, Hines berkutat dengan pembuatan dan implementasi Federal Motor Vehicle Safety Standards. Ia banyak terlibat dalam regulasi kendaraan otonom dan sistem bantuan pengemudi canggih (ADAS). Pengalaman ini dinilai relevan dengan tantangan Ford saat ini, di mana kompleksitas elektronik dan perangkat lunak menjadi sumber masalah baru.
Dalam peran barunya, Hines tidak bekerja sendiri. Ia akan memimpin tim lintas departemen yang mencakup divisi engineering, desain digital, kualitas, manufaktur, dan purchasing. Tim ini bertugas memastikan keselamatan produk, desain, dan kualitas terjaga sepanjang siklus hidup kendaraan.
Kehadiran Hines memang bukan obat mujarab instan untuk semua persoalan kualitas Ford. Namun, langkah ini menunjukkan arah yang jelas. Selain rekrutan ini, Ford juga menerapkan langkah teknis lain, seperti pembongkaran mesin harian di pabrik Essex, Ontario, untuk mendeteksi masalah lebih dini.
Dengan kombinasi pengawasan ketat dari Hines dan perbaikan proses di pabrik, Ford tampaknya berusaha keras menghidupkan kembali jargon lamanya: “Quality is Job One.”