Kadin: Indonesia Punya Aset Wisata Kelas Dunia, Ekosistem Jadi PR

Penulis: Sutomo  •  Sabtu, 12 September 2026 | 11:47:31 WIB
Ketua Umum Kadin James Riady berbicara dalam KADIN Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

SULAWESI TENGGARA — Pertanyaan yang dilontarkan James Riady di Jakarta, Jumat (11/9/2026), sederhana tapi menusuk: bagaimana mengubah keindahan alam menjadi aksesibilitas, aksesibilitas menjadi pengalaman, pengalaman menjadi pembelanjaan, lalu pembelanjaan menjadi investasi dan kemakmuran? Pertanyaan itu muncul dalam KADIN Monthly Diplomatic Economic Breakfast.

Menurut James, Indonesia tidak perlu menciptakan aset pariwisata baru. Pantai, laut, lokasi menyelam, ombak untuk berselancar, gunung berapi, hutan, budaya, hingga kuliner sudah tersedia di berbagai daerah.

"Indonesia memiliki spot diving dan surfing terbaik di dunia, ribuan pulau, serta keragaman budaya yang luar biasa. Dari segi aset mentah pariwisata, sangat sedikit negara yang mampu menandingi kita," kata James.

Aset Mentah Melimpah, Konversi Ekonomi Lemah

Masalahnya bukan pada kekayaan alam. James menilai Indonesia masih tertinggal dalam membangun ekosistem pariwisata dibandingkan sejumlah negara yang tidak selalu punya kekayaan alam sebesar Indonesia.

Ekosistem yang dimaksud mencakup industri penerbangan, perhotelan, pemasaran, transportasi publik, restoran, ritel, penyelenggaraan acara, kemudahan perjalanan, kebersihan, konektivitas, hingga promosi digital.

"Harus diakui banyak negara lain yang jauh lebih efektif dalam membangun ekosistem pendukung di sekitar aset tersebut, mulai dari industri penerbangan, perhotelan, pemasaran, ritel, transportasi publik, penyelenggaraan acara, restoran, kemudahan perjalanan, kebersihan, konektivitas, promosi digital, hingga eksekusi yang konsisten," bebernya.

Blok M hingga Whoosh: Tren yang Digerakkan Media Sosial

James mencontohkan meningkatnya kunjungan wisatawan asal Asia Tenggara, khususnya Malaysia, ke Jakarta. Mereka tidak hanya berbelanja, tetapi juga menikmati kuliner, mengunjungi kawasan Blok M, hingga menggunakan Kereta Cepat Whoosh menuju Bandung.

Menurutnya, tren itu menunjukkan daya tarik wisata bisa berkembang lewat pengalaman yang dibagikan masyarakat. Sebagian pertumbuhan minat wisatawan bahkan tidak berasal dari kampanye pariwisata konvensional.

"Sebagian besar dari tren ini tidak digerakkan oleh kampanye pariwisata tradisional, melainkan oleh media sosial seperti TikTok dan Instagram. Masyarakat menemukan sesuatu yang menarik, membagikannya, dan seketika ribuan orang ingin merasakan pengalaman yang sama," ujar James.

Belanja Wisatawan dan Rantai Ekonomi yang Terbuka

James menilai pengembangan pariwisata Indonesia perlu diarahkan pada pembangunan ekosistem, bukan hanya promosi destinasi. Infrastruktur dan layanan pendukung jadi faktor penting agar kunjungan wisatawan menghasilkan belanja lebih besar.

Sektor pariwisata punya keunggulan karena aktivitasnya dapat menggerakkan banyak sektor sekaligus. Belanja wisatawan mengalir ke perhotelan, restoran, penerbangan, transportasi, ritel, kuliner, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dengan rantai ekonomi tersebut, penguatan pariwisata dinilai dapat memberikan dampak lebih cepat kepada masyarakat sekaligus membuka ruang investasi baru.

Tantangan: Konektivitas dan Ekosistem Bisnis

Bagi Indonesia, tantangan pengembangan pariwisata kini bukan lagi terletak pada ketersediaan destinasi. James menyoroti kemampuan membangun konektivitas dan ekosistem bisnis di sekitar destinasi tersebut sebagai pekerjaan rumah utama.

Implikasinya bagi traveler maupun pelaku usaha daerah cukup jelas: destinasi sebagus apa pun butuh penerbangan yang terjangkau, transportasi publik yang mudah, kebersihan yang terjaga, dan promosi digital yang konsisten agar kunjungan berubah jadi belanja nyata.

Reporter: Sutomo
Sumber: tutur.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top