Krisis Politik Inggris Kian Dalam, Investor Asing Kabur dari Pasar Obligasi

Penulis: Saiful  •  Kamis, 14 Mei 2026 | 15:52:01 WIB
Investor asing melepas obligasi Inggris seiring meningkatnya ketidakpastian politik.

SULAWESI TENGGARA — Tekanan di pasar obligasi Negeri Ratu Elizabeth semakin nyata. Dalam sepekan terakhir, yield UK gilt tenor acuan naik lebih dari 20 basis poin (bps), menandakan harga obligasi yang ambles karena permintaan lesu. Kondisi ini menjadi ujian bagi Kanselir Rachel Reeves yang baru saja menyelesaikan roadshow global untuk meyakinkan investor tentang stabilitas fiskal Inggris.

Data terbaru dari Debt Management Office (DMO) Inggris menunjukkan kepemilikan asing atas gilt mencapai 27,5% per Maret 2025. Porsi ini sangat signifikan. Jika aksi jual berlanjut, biaya pinjaman pemerintah bisa membengkak dan mempersempit ruang fiskal untuk belanja publik.

Pemicu Ketakutan: Fragmentasi Parlemen dan Risiko Fiskal

Krisis politik yang dimaksud bukanlah pemilihan umum dadakan, melainkan ancaman perpecahan di internal Partai Buruh yang berkuasa. Fraksi sayap kiri partai menolak rencana pemotongan belanja kesejahteraan sebesar £5 miliar yang diusulkan Reeves dalam anggaran musim semi lalu. Penolakan ini meningkatkan risiko deadlock legislatif dan potensi gagal bayar teknis jika batas utang tidak segera dinaikkan.

“Pasar tidak takut pada politik biasa. Mereka takut pada ketidakmampuan pemerintah untuk memerintah,” ujar seorang analis obligasi senior di sebuah firma manajemen aset London, yang enggan disebut namanya. “Ketika investor asing melihat parlemen lumpuh dan defisit tetap tinggi, mereka akan meminta premi risiko yang lebih besar atau pergi begitu saja.”

Dampak ke Pasar Global dan Kaitannya dengan Indonesia

Guncangan di pasar obligasi Inggris berpotensi menular ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika yield di negara maju naik tajam dan volatilitas meningkat, investor global cenderung melakukan risk-off dengan menarik modal dari aset berisiko seperti Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.

Sepanjang pekan ini, imbal hasil SBN tenor 10 tahun sudah terpantau naik 12 bps ke level 6,85%, mengikuti pergerakan US Treasury dan UK gilt. Arus modal asing di pasar SBN pun tercatat net sell sebesar Rp 2,1 triliun dalam tiga hari terakhir, menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.

Yang Perlu Diwaspadai Investor ke Depan

Pelaku pasar kini menunggu hasil pemungutan suara di House of Commons pekan depan terkait anggaran kesejahteraan. Jika proposal Reeves gagal lolos, Inggris berpotensi menghadapi penurunan peringkat utang oleh lembaga pemeringkat seperti Moody's atau S&P Global.

  • Yield UK Gilt 10Y: 4,61% (naik 21 bps dalam sepekan)
  • Kepemilikan Asing: 27,5% dari total utang pemerintah Inggris
  • Defisit Anggaran: diperkirakan 4,5% dari PDB tahun fiskal 2025/2026
  • Dampak ke SBN Indonesia: yield naik 12 bps, asing net sell Rp 2,1 triliun

Bagi investor Indonesia, korelasi ini mengingatkan pentingnya diversifikasi portofolio. Saat pasar negara maju bergejolak, aset safe-haven seperti emas atau dolar AS biasanya menjadi pelarian, sementara obligasi emerging market ikut tertekan dalam jangka pendek. Investasi mengandung risiko. Keputusan tetap berada di tangan investor berdasarkan profil risiko masing-masing.

Reporter: Saiful
Sumber: bloomberg.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top