SULAWESI TENGGARA — Nasaruddin Umar mengemukakan visi tersebut saat memberikan sambutan dalam wisuda santri Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah di Menara 165, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ia menekankan bahwa Indonesia bukan sekadar negara berpenduduk Muslim terbesar, tetapi juga mampu menjadi pusat rujukan peradaban Islam kontemporer.
"Mudah-mudahan Indonesia bisa menjadi epicentrum peradaban dunia Islam modern yang akan datang, akan menjadi kiblat peradaban dunia Islam modern yang akan datang adalah di Indonesia," ujar Nasaruddin dalam kesempatan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan di hadapan para santri yang diwisuda. Menteri Agama menilai, sumber daya manusia Indonesia di bidang keagamaan, khususnya hafiz Al-Quran, menjadi modal utama untuk mewujudkan cita-cita itu.
Dalam sambutannya, Nasaruddin memberikan apresiasi khusus kepada Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah. Ia menyoroti kontribusi yayasan dalam melahirkan penghafal Al-Quran dari Indonesia secara mandiri.
"Mereka membiayai sendiri lembaga pendidikannya tersebut dan mengusahakan agar anak-anak Indonesia bisa lanjut di luar negeri melalui program beasiswanya di bidang Al-Quran," kata Nasaruddin menjelaskan.
Kemandirian pembiayaan itu dinilai sebagai model yang patut dicontoh. Pemerintah, lanjutnya, mendukung penuh inisiatif swasta yang selaras dengan penguatan sumber daya manusia berbasis agama.
Visi menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam modern membutuhkan fondasi yang kokoh. Nasaruddin mengindikasikan bahwa program beasiswa dan pengembangan lembaga pendidikan Al-Quran menjadi salah satu pilar strategis.
Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah disebut telah menjembatani santri Indonesia untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Langkah itu diharapkan memperluas wawasan dan kompetensi global para penghafal Al-Quran Tanah Air.
Pemerintah, menurut Nasaruddin, akan terus mendorong lahirnya lembaga serupa. Sinergi antara negara dan swasta dinilai krusial untuk mempercepat realisasi target tersebut.
Pernyataan Menteri Agama ini menjadi sinyal penguatan peran pendidikan Al-Quran dalam kebijakan nasional. Selama ini, Kementerian Agama telah menjalankan berbagai program tahfidz di madrasah dan pesantren.
Ambisi menjadi kiblat peradaban Islam modern menuntut peningkatan kualitas dan kuantitas SDI keagamaan secara masif. Program beasiswa dan pendirian pusat studi Islam bertaraf internasional menjadi langkah konkret yang mungkin ditempuh ke depan.
Belum ada rincian kebijakan lanjutan yang disampaikan Nasaruddin terkait target tersebut. Namun, pernyataan di hadapan ribuan santri itu menegaskan arah prioritas pemerintah di sektor keagamaan.