MEDAN — Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengungkapkan bahwa generasi muda menjadi kelompok yang paling dominan dalam penggunaan internet di Indonesia. Dari total 230 juta jiwa pengguna internet nasional, sekitar 60 persen di antaranya adalah generasi muda.
Pernyataan tersebut disampaikan Meutya di Medan, Sumut, Ahad (15/12). Ia menekankan bahwa angka ini menjadi perhatian serius pemerintah pusat, terutama karena generasi muda kerap menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan digital.
Literasi Digital Jadi Benteng Perlindungan
Menurut Meutya, pemahaman terhadap dunia digital menjadi krusial bagi kelompok usia muda. "Literasi digital menjadi penting bagi mereka, karena 60 persen dari pengguna internet merupakan generasi muda," ujarnya dalam pernyataan yang dikutip di Medan.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat, mulai dari perluasan akses informasi, pendidikan, ekonomi, hingga jejaring sosial. Namun, manfaat tersebut dapat berubah menjadi risiko apabila internet tidak digunakan secara bijak.
Ruang Digital Dipenuhi Konten Negatif
Meutya menyoroti kondisi ruang digital yang semakin dipenuhi konten mengandung hujatan, kebencian, fitnah, serta informasi tidak benar. Hal ini, kata dia, tidak terlepas dari cara kerja algoritma platform digital yang mendorong konten kontroversial karena lebih banyak menarik perhatian.
"Jika tidak digunakan dengan bijak, Internet itu pisau bermata dua, banyak manfaatnya dan juga banyak buruknya," sebut dia.
Ajak Generasi Muda Proaktif Lawan Kejahatan Digital
Pemerintah pusat berencana memperkuat pemahaman dunia internet guna mencegah generasi muda menjadi sasaran pelaku kejahatan. Meutya mengajak generasi muda untuk proaktif menolak seluruh indikasi kejahatan digital dengan melakukan berbagai upaya, termasuk melaporkan pada pihak berwenang.
"Pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh hoaks maupun narasi provokatif yang sengaja disebarkan untuk menyesatkan publik," ujarnya menegaskan.