Kelola Keuangan Keluarga untuk Dukung Tumbuh Kembang Anak Sejak Dini

Penulis: Sutomo  •  Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:20:01 WIB
Peserta mengikuti kelas daring Kelas Orang Tua Hebat (KERABAT) Seri 36 tentang pengelolaan keuangan keluarga.

SULAWESI TENGGARA — Lebih dari 656 ribu orang tua mengikuti program literasi keuangan keluarga sepanjang 2026, angka yang menunjukkan makin banyak ibu sadar dompet rapi berdampak langsung pada gizi dan stimulasi anak. Panduan berikut merangkum cara mengatur prioritas belanja keluarga agar kebutuhan si kecil di 1.000 Hari Pertama Kehidupan tidak pernah tergeser oleh pengeluaran konsumtif.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menutup rangkaian Kelas Orang Tua Hebat (KERABAT) Seri 36 bertajuk "Bijak Mengelola Keuangan Keluarga, Optimal Mendukung Tumbuh Kembang Anak". Kelas daring yang digelar bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta pada Kamis (29/10/2026) ini menjadi penutup program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) tahun 2026.

Sepanjang 2026, TAMASYA di KERABAT melayani lebih dari 656 ribu peserta terdaftar dan menerbitkan 459 ribu sertifikat. Kanal YouTube program ini menembus lebih dari 500 ribu penayangan, tanda bahwa materi pengasuhan berbasis praktik memang dicari banyak keluarga muda.

Mengapa Uang dan Tumbuh Kembang Anak Saling Terkait

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti, menyebut kecakapan finansial sebagai bagian dari kemampuan pengasuhan. Orang tua perlu bisa menentukan prioritas pengeluaran, membedakan kebutuhan dari keinginan, serta merencanakan kebutuhan jangka pendek dan panjang.

Hak anak tidak berhenti pada pangan dan pakaian. Akses layanan kesehatan, gizi seimbang, stimulasi, dan lingkungan aman juga masuk hitungan — semuanya butuh alokasi dana yang jelas.

Materi literasi keuangan dalam seri terakhir ini diangkat dari Dimensi Keamanan dan Keselamatan dalam pengasuhan anak. Kerangka acuannya adalah Nurturing Care Framework yang dikembangkan WHO bersama UNICEF untuk mendukung tumbuh kembang anak usia dini secara menyeluruh.

Kebutuhan versus Keinginan: Kunci Belanja Cerdas

Deputi Direktur Madya (Kepala Divisi Pelaksanaan Edukasi Keuangan) OJK, Halimatus Sa'diyah, menekankan eksekusi anggaran yang logis dan tepat sasaran di tingkat keluarga.

"Kunci utama dari smart spending dalam keluarga adalah ketegasan memisahkan antara kebutuhan dan keinginan," jelas Halimatus Sa'diyah.

Alokasi untuk asupan gizi berkualitas dan kesehatan anak jauh lebih mendesak dibanding pengeluaran konsumtif yang tidak berdampak pada tumbuh kembang. Menurut Nopian, nutrisi dan kesehatan anak sebenarnya bisa dijangkau tanpa biaya besar asalkan orang tua paham skala prioritas dan konsisten menjalankannya.

Cara Menyusun Anggaran Keluarga yang Berpihak pada Anak

Mulai dari daftar pengeluaran satu bulan terakhir, lalu pilah menjadi tiga kolom: kebutuhan pokok, kebutuhan anak, dan keinginan. Pos gizi, susu, MPASI, vitamin, serta biaya kontrol ke posyandu atau dokter masuk kolom kedua dan tidak boleh dipotong lebih dulu.

Evaluasi skala prioritas secara berkala, misalnya tiap awal bulan atau saat ada perubahan penghasilan. Kebiasaan ini menjaga alokasi anggaran tetap proporsional sehingga gizi dan kesehatan buah hati tidak jadi korban saat ada pengeluaran mendadak.

Untuk masa kritis 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), perencanaan keuangan perlu lebih disiplin. Sisihkan dana khusus sejak awal kehamilan untuk pemeriksaan kandungan, persalinan, imunisasi, dan makanan bergizi — jangan menunggu sampai kebutuhan itu datang bersamaan.

Kapan Perlu Konsultasi ke Perencana Keuangan

Jika cicilan utang konsumtif mulai menyerap lebih dari sepertiga penghasilan bulanan, atau ibu sampai menunda pemeriksaan kehamilan karena alasan biaya, saatnya mencari bantuan. Konsultasi bisa dimulai dari layanan edukasi keuangan OJK yang gratis, atau mendatangi puskesmas untuk membicarakan skema bantuan kesehatan yang tersedia.

Mengatur uang memang bukan soal pelit, tapi soal urutan. Begitu pos gizi, kesehatan, dan stimulasi anak diamankan lebih dulu, sisa anggaran boleh dipakai untuk hal yang menyenangkan tanpa rasa bersalah.

Reporter: Sutomo
Sumber: indoposco.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top