KONAWE SELATAN — Diklatsar ke-XIII TBTS berlangsung di Desa Ambesea dengan melibatkan tokoh masyarakat setempat, jajaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) TBTS, anggota, kader, hingga warga sekitar. Kegiatan ini menjadi jalur pengkaderan resmi organisasi yang sejak 2022 bergerak di ranah pelestarian budaya Tolaki.
Diklatsar merupakan program pendidikan dan pelatihan dasar yang wajib dilalui calon anggota TBTS. Lewat forum inilah organisasi menanamkan nilai budaya, membentuk mental, kedisiplinan, serta kepribadian kader.
Pelaksanaan di Ambesea dihadiri tokoh masyarakat Desa Ambesea Nurjaya S.Sos., Ketua KSBT Sultra Dedi Siswanto, serta jajaran DPP TBTS. Turut hadir para anggota, kader, dan masyarakat setempat yang menyaksikan prosesi pengkaderan.
Nurjaya yang mewakili Pemerintah Desa Ambesea menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap TBTS dapat menjadi wadah pemersatu masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara.
"Atas nama Pemerintah Desa Ambesea, kami sangat mengapresiasi kehadiran organisasi Tamalaki Budaya Tolaki di desa ini, khususnya dalam pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Dasar. Kami berharap organisasi ini dapat mempererat persatuan serta menjadi lembaga pemersatu masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara," ujar Nurjaya.
Sekretaris Jenderal TBTS Burhan Tunduosu menegaskan organisasi tersebut dibentuk sebagai wadah mempererat persaudaraan keluarga besar suku Tolaki melalui proses pendidikan dan pengkaderan. Menurutnya, Diklatsar tidak hanya berorientasi pada penambahan anggota.
Burhan juga mengingatkan seluruh anggota agar bersikap rendah hati, tidak arogan, serta tidak melakukan tindakan yang dapat mencoreng nama baik organisasi.
"Jangan merasa malu untuk belajar dan berproses di organisasi. Jadilah panutan bagi orang lain. Jangan membawa kesombongan atau mencari masalah dengan orang lain karena hal itu tidak dibenarkan dalam organisasi Tamalaki Budaya Tolaki," tegas Burhan.
Ia menambahkan, anggota diharapkan turut mendukung program pemerintah, khususnya di tingkat desa, serta menjaga citra organisasi melalui perilaku santun dan bertanggung jawab.
Ketua Umum TBTS Israh Malaka berpesan kepada 16 peserta Diklatsar agar menjadi anggota yang bermartabat dan mampu menjaga nama baik budaya maupun organisasi. Ia menekankan pentingnya menyelesaikan setiap persoalan melalui musyawarah dengan melibatkan dewan penasihat, bukan dengan tindakan arogan atau kekerasan.
"Jika ada persoalan, mari kita selesaikan melalui musyawarah. Kita memiliki dewan penasihat yang dapat membantu menyelesaikan setiap permasalahan. Jangan mudah tersinggung, apalagi sampai mencari masalah dengan orang lain," ujar Israh.
Ia juga mengingatkan kader agar tidak mudah tersinggung maupun terpengaruh minuman beralkohol yang dapat memicu hilangnya kendali diri hingga berujung pada tindakan yang mengganggu ketertiban dan memicu konflik dengan masyarakat dari suku lain.
Menurut Israh, perbedaan suku bukan alasan untuk memutus tali persaudaraan. Setiap anggota diminta menjunjung tinggi sikap saling menghormati dan menghargai sesama.
"Marilah kita bersama-sama menjaga hubungan silaturahmi sebagai sesama anak bangsa demi mewujudkan Bumi Anoa, Lipu I Konawe, Wonua I Mekongga sebagai daerah yang aman dan nyaman," ungkapnya.
Sejak terbentuk pada 2022 hingga 2026, TBTS telah memiliki lebih dari 1.200 anggota yang tersebar di 17 distrik di wilayah Konawe Raya. Menutup sambutannya, Israh berpesan agar seluruh anggota tetap menjaga keharmonisan keluarga dan menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
"Jaga orang tuamu, sayangi istrimu, dan jangan berselingkuh," pesannya.