KENDARI — Air yang awalnya hanya genangan di halaman perlahan naik, merendam jalan, dan masuk ke rumah-rumah warga di delapan kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara sejak Sabtu (9/5). Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat lebih dari 8.600 jiwa terdampak, dengan ribuan rumah terendam. Di balik angka-angka itu, ada anak-anak yang tidak bisa tidur nyenyak dan orang tua yang kehilangan tempat beristirahat.
Pos Hangat hingga Layanan Psikososial untuk Penyintas Banjir
Relawan Rumah Zakat Kendari merespons kondisi darurat ini dengan membuka sejumlah posko. Mereka menyediakan Pos Segar, Pos Hangat, dan Pos Ceria yang merupakan layanan dukungan psikososial bagi warga yang masih bertahan di pengungsian maupun di rumah yang terendam.
“Kehadiran bantuan dan perhatian kecil seperti ini diharapkan mampu menghadirkan rasa nyaman dan semangat bagi warga yang masih bertahan menghadapi situasi sulit,” demikian pernyataan resmi dari relawan Rumah Zakat Kendari. Selain itu, tim juga melakukan asesmen untuk proses pembersihan rumah warga dan fasilitas umum yang terdampak lumpur.
Air Bersih hingga Baby Kit: Kebutuhan Mendesak yang Masih Kurang
Di tengah penanganan darurat, sejumlah kebutuhan pokok warga terdampak masih sangat mendesak. Berdasarkan data di lapangan, barang-barang yang paling dibutuhkan saat ini meliputi:
- Air minum dan air bersih
- Alat penerangan atau genset untuk pengungsian di masjid
- Obat-obatan seperti obat gatal, mata, diare, dan demam
- Trash bag atau kantong sampah
- Selimut dan alas tidur
- Baby kit, hygiene kit, dan cleaning kit
Hingga saat ini, program penggalangan dana yang digerakkan oleh Rumah Zakat untuk banjir Sulawesi Tenggara telah mengumpulkan Rp3.316.103 dari 61 donatur, dengan minimal transaksi donasi sebesar Rp10.000. Dana tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga yang masih berjuang melewati masa sulit pascabencana.