Pencarian

5 Fakta Unik Laga Prancis vs Senegal di Piala Dunia 2026: Sejarah Kolonial hingga 10 Pemain Kelahiran Negeri Bekas Penjajah

Selasa, 16 Juni 2026 • 20:15:01 WIB
5 Fakta Unik Laga Prancis vs Senegal di Piala Dunia 2026: Sejarah Kolonial hingga 10 Pemain Kelahiran Negeri Bekas Penjajah
Laga Prancis vs Senegal di Piala Dunia 2026 menyimpan sejarah panjang kolonialisme dan migrasi.

JAKARTA — Ketika wasit meniup peluit tanda dimulainya laga Prancis vs Senegal, yang bertanding bukan hanya sebelas pemain di lapangan. Di balik seragam biru Les Bleus dan hijau Les Lions de la Teranga, tersimpan narasi panjang tentang kolonialisme, kemerdekaan, dan ikatan darah yang membentang dari Eropa hingga Afrika Barat.

Bagaimana Sejarah Kolonial Mewarnai Laga Ini?

Prancis mulai menginjakkan kaki di Senegal pada 1659 dan secara bertahap menjadikannya koloni hingga abad ke-19. Senegal baru merdeka pada 4 April 1960. Namun, dalam catatan FIFA, Senegal dianggap berada dalam entitas politik Prancis saat lima edisi pertama Piala Dunia digelar, dari 1930 hingga 1954.

Kaitan itu tak putus hingga kini. Senegal adalah anggota La Francophonie, dan ikatan budaya serta emosional antara kedua negara sangat kuat. Salah satu bukti paling konkret adalah komposisi pemain: 10 dari 26 pemain Senegal lahir di Prancis, termasuk kiper utama Edouard Mendy dan seluruh tiga penjaga gawang mereka.

Mengapa Banyak Pemain Senegal Lahir di Prancis?

Fenomena ini tak lepas dari sejarah migrasi. Dari 26 pemain Senegal, semuanya bermain di klub luar negeri, mayoritas di Eropa. Liga Inggris dan Liga Prancis menjadi penyumbang pemain terbesar bagi skuad Lion Teranga. Ironisnya, Prancis sendiri juga memiliki darah Afrika yang kuat: 10 dari 26 pemain Les Bleus memiliki darah Afrika, termasuk bintang seperti Kylian Mbappe, N'Golo Kante, dan Ousmane Dembele.

Bahkan salah satu kiper Prancis, Brice Samba, lahir di Kongo. Pola ini tak hanya terjadi di Senegal. Total 75 pemain kelahiran Prancis bermain di Piala Dunia 2026, dengan proporsi terbesar membela bekas jajahan Prancis seperti Senegal, Aljazair, Haiti, dan Kongo.

Bisakah Senegal Ulangi Kejutan 2002?

Pertemuan ini bukanlah yang pertama. Dalam satu-satunya duel sebelumnya di Piala Dunia, tepatnya pada fase grup 2002, Prancis yang saat itu dijagokan justru tumbang 0-1. Gol tunggal Papa Bouba Diop menjadi mimpi buruk bagi tim yang diperkuat trio bomber Thierry Henry, David Trezeguet, dan Djibril Cisse.

Prancis mendominasi laga dengan penguasaan bola dan peluang, tetapi tetap kalah. Kekalahan itu menjadi pola: dalam tiga dari empat Piala Dunia terakhir, Prancis selalu kalah dari tim Afrika di fase grup, termasuk dari Afrika Selatan (2010) dan Tunisia (2022).

Apa Strategi Senegal dan Ambisi Deschamps?

Senegal diprediksi akan menggunakan formula sukses 2002: organisasi pertahanan yang kuat dan transisi menyerang yang cepat. Filosofi ini menjadi fondasi mereka hingga menjuarai Piala Afrika 2021 dan menjadi runner-up pada edisi 2002, 2019, dan 2025. Tim yang dikapteni Kalidou Koulibaly ini juga paham betul gaya bermain Prancis, karena delapan anggota skuadnya bermain di Liga Prancis.

Di sisi lain, pelatih Prancis Didier Deschamps membawa tim yang baru saja menjuarai Grup D Kualifikasi Piala Dunia zona Eropa dengan lima kemenangan dan sekali seri. Meski sempat kalah 1-2 dari Pantai Gading dalam laga uji coba, Les Bleus juga menaklukkan Brasil, Kolombia, dan Irlandia Utara. Prancis adalah salah satu dari dua tim paling difavoritkan menjadi juara, selain Spanyol.

Akankah Kenangan Pahit 2002 Menghantui Les Bleus?

Pertanyaan itu yang akan terjawab di Stadion MetLife. Senegal datang dengan modal percaya diri sebagai tim yang konsisten di Piala Dunia — ini adalah edisi keempat mereka dan ketiga berturut-turut sejak 2018. Sementara Prancis, meski dua kali juara dunia (1998, 2018) dan dua kali runner-up (2006, 2022), memiliki catatan rapuh saat berhadapan dengan tim Afrika di panggung terbesar sepak bola.

Bagikan
Sumber: sultra.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks