Kendari, pagi hari di Pasar Panjang. Aroma ikan bakar bercampur asap dari pedagang sinonggi sudah tercium sejak pintu masuk. Saya pertama kali mencoba sinonggi tahun lalu saat liputan di Muna—dan langsung paham kenapa hidangan ini jadi ikon kebanggaan warga Sultra. Bukan sekadar sagu, tapi cara penyajiannya yang komunal bikin rasa makin kuat.
Dari pengalaman itu, saya catat 7 kuliner yang paling sering dicari wisatawan dan perantau. Beberapa sudah terkenal, beberapa masih tersembunyi di warung pinggir jalan. Semua punya cerita dan rasa yang beda.
1. Sinonggi – Sagu Lembut Khas Muna
Sinonggi dibuat dari sagu yang diaduk perlahan hingga teksturnya kental dan kenyal. Cara makannya unik: pakai sumpit dari bambu, ambil sejumput, celup ke kuah ikan kuning atau tumis kangkung.
Warung Sinonggi Ibu Rini di Jalan Diponegoro, Kendari, buka pukul 07.00–15.00. Seporsi Rp10.000–Rp15.000. Tips: datang sebelum jam 10 pagi kalau mau dapat ikan segar.
2. Kabuto – Sup Kepala Ikan Khas Buton
Kabuto adalah sup kepala ikan kakap merah dengan kuah bening asam pedas. Bumbunya sederhana—bawang putih, kunyit, cabai rawit—tapi kaldu dari kepala ikan bikin rasa gurih alami.
Coba di Rumah Makan Nelayan, Kelurahan Batauga, Baubau. Harga Rp25.000–Rp35.000 per porsi. Cocok disantap siang hari saat cuaca panas.
3. Lapa-Lapa – Nasi Bakar Daun Kelapa
Sekilas mirip lemper, tapi lapa-lapa pakai beras ketan yang dimasak dengan santan, lalu dibakar dalam daun kelapa muda. Aroma daun kelapa yang hangus bikin rasa makin legit.
Di Kendari, lapa-lapa mudah ditemukan di Pasar Anduonohu setiap pagi. Harga Rp5.000 per bungkus. Biasanya dimakan dengan sambal roa atau ikan asin.
4. Ikan Asap Wuna – Ikan Asap Khas Muna
Ikan cakalang atau tongkol diasapi selama 4–6 jam pakai kayu bakau. Hasilnya: daging padat, aroma asap kuat, dan rasa gurih yang tahan lama. Warga lokal biasa menyimpannya sampai seminggu.
Di Desa Lakologou, Muna, produksi ikan asap dilakukan turun-temurun. Harga Rp30.000–Rp50.000 per kilogram. Pilih yang permukaan kering merata—tanda proses pengasapan sempurna.
5. Kapurung – Papeda ala Sultra
Kapurung mirip papeda tapi lebih kental dan kenyal. Sagu dimasak dengan air mendidih sambil diaduk cepat, lalu disajikan dengan kuah ikan cakalang dan sayur kangkung. Teksturnya lengket, mirip lem.
Warung Kapurung Sari di Jalan Suprapto, Kolaka, buka pukul 08.00–17.00. Satu porsi Rp12.000–Rp18.000. Tips: jangan kunyah, langsung telan—itu cara asli menikmatinya.
6. Parende – Ikan Bakar dengan Bumbu Kuning
Parende adalah ikan tongkol atau cakalang yang dibakar di atas bara api, lalu dilumuri bumbu kuning berbasis kunyit, bawang merah, dan cabai. Bumbunya meresap sampai ke daging.
Coba di Parende Makassar Asli, Jalan Haluoleo, Kendari. Harga Rp20.000–Rp30.000. Pilih ikan yang dibakar di atas batu panas—rasanya lebih smoky.
7. Kue Bagea – Kue Kering Khas Wakatobi
Kue bagea terbuat dari sagu dan kelapa parut, dengan tekstur keras dan renyah. Rasanya manis-gurih, cocok untuk oleh-oleh. Warga Wakatobi biasa menyajikannya saat acara adat.
Beli di sentra oleh-oleh Desa Mandati, Wakatobi, atau di Bandara Haluoleo Kendari. Harga Rp25.000–Rp40.000 per toples. Pilih yang kemasan vakum agar tahan lebih lama.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa kuliner paling terkenal di Sulawesi Tenggara?
Sinonggi adalah yang paling ikonik. Hidangan sagu khas Muna ini sering disebut "papeda-nya Sultra".
Berapa harga rata-rata makanan di Kendari?
Makanan kaki lima mulai Rp5.000–Rp15.000. Di rumah makan, Rp20.000–Rp50.000 per porsi.
Di mana tempat terbaik mencicipi kuliner Sultra?
Pasar Panjang Kendari, Pasar Anduonohu, dan kawasan Jalan Diponegoro punya banyak pilihan.
Apakah kuliner Sultra cocok untuk vegetarian?
Sebagian besar berbasis ikan dan sagu. Kapurung dan sinonggi bisa dinikmati tanpa lauk hewani.
Kapan waktu terbaik berkunjung untuk wisata kuliner?
Pagi hari pukul 07.00–10.00 untuk sinonggi dan lapa-lapa segar. Sore hari untuk ikan bakar dan kabuto.
Dari sinonggi yang diaduk perlahan hingga kue bagea yang renyah, setiap hidangan punya cerita yang melekat pada keseharian warga Sultra. Bukan cuma soal rasa, tapi juga cara penyajian dan tradisi yang masih dijaga. Kalau mampir ke Kendari, Baubau, atau Wakatobi, jangan lewatkan tujuh ini—sisakan ruang di perut, karena porsinya besar.