SULAWESI TENGGARA — Memasuki fase transisi produksi yang krusial, Amman Mineral tidak hanya mengandalkan alat berat raksasa. Perusahaan yang beroperasi di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, ini justru menempatkan algoritma sebagai "pengemudi" utama di balik pergerakan ratusan truk tambang dan mesin penggilingan bijih.
Karakteristik bijih pada Fase 8 yang dinilai lebih kompleks menuntut operasional presisi. Untuk itu, perusahaan mengintegrasikan Fleet Management System (FMS) dengan sensor IoT dan algoritma AI. Data telemetri seperti suhu, getaran, dan tingkat keausan suku cadang dari setiap komponen alat berat dikirim secara real-time ke pusat kendali.
Algoritma prediktif bekerja untuk menganalisis data tersebut. Hasilnya, perawatan alat berat dapat dijadwalkan sebelum terjadi kerusakan mekanis yang fatal. Langkah ini secara langsung memangkas biaya modal, memperpanjang usia pakai armada, dan menekan konsumsi bahan bakar fosil.
Digitalisasi di sektor hulu ini tetap menempatkan manusia sebagai prioritas. Kamera pintar berbasis AI di dalam kabin operator kini mampu memantau indikator micro sleep dan kelelahan. Jika mata operator terpejam melewati batas toleransi, sistem otomatis membunyikan alarm keras di kabin dan mengirim sinyal bahaya ke ruang dispatch.
Vice President Corporate Communications Amman, Kartika Octaviana, menegaskan bahwa kecanggihan teknologi ini diarahkan untuk memperkuat keselamatan kerja. "AI tidak ditempatkan sebagai teknologi yang mengikuti tren tetapi diarahkan membantu manusia bekerja lebih cepat, cerdas, dan aman di seluruh rantai operasi," ungkapnya dalam publikasi resmi Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI).
Setelah bijih diekstraksi, tantangan berpindah ke pabrik pengolahan. Setiap harinya, lebih dari 100.000 ton batuan bijih mengalir di atas conveyor menuju mesin penggiling raksasa Semi-Autogenous Grinding (SAG) Mill. Di tengah aliran deras ini, material penyusup seperti batuan ekstrem atau potongan besi bekas tambang dapat menghentikan seluruh sirkuit produksi jika lolos ke dalam mesin.
Keterbatasan kamera 2D konvensional yang kerap terkendala pencahayaan mendorong tim metalurgi Amman menciptakan inovasi 3D Particle Size Measurement (3DPM). Teknologi ini memanfaatkan metode laser triangulation untuk memindai bentuk, ukuran, dan volume setiap objek secara presisi di atas conveyor belt.
Begitu objek berbahaya terdeteksi, sistem memberi peringatan dini sehingga operator ruang kontrol dapat menghentikan atau mengekstraksi material tersebut sebelum memasuki mesin penggiling. "Implementasi teknologi 3DPM menunjukkan bagaimana inovasi dapat lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Aliran material menjadi jauh lebih konsisten, yang pada akhirnya menjaga produktivitas tambang tetap berada di kurva optimal," ujar Victor dalam Laporan Keberhasilan Inovasi Operasional Amman, 2026.
Efisiensi berlanjut ke sirkuit flotasi. Pemodelan proses berbasis AI memantau tangki secara real-time untuk mengontrol campuran agen kimia, tingkat keasaman (pH), dan suplai udara. Hasilnya, tingkat perolehan tembaga dan emas meningkat signifikan. Terobosan ini mengantarkan Amman meraih Juara 1 kategori Best Practices in Processing pada ajang internasional 4th ASEAN Mineral Awards (AMA).
Pengalaman operasional cerdas di Batu Hijau Fase 8 menjadi batu pijakan penting bagi pengembangan megaproyek Blok Elang. Dengan potensi cadangan bijih mencapai 2.526 juta ton—hampir empat kali lipat dari sisa cadangan Batu Hijau yang sebesar 696 juta ton—proyek ini dijadwalkan berproduksi pada 2031 hingga 2046.
Melalui pendekatan Brownfield Development, Proyek Elang akan memanfaatkan infrastruktur eksisting Batu Hijau seperti sirkuit penggilingan, pelabuhan, dan jaringan logistik. Strategi ini secara drastis menekan pembukaan lahan baru dan menghemat alokasi biaya investasi.
Seluruh inovasi di lapangan ini dibentengi oleh arsitektur teknologi informasi skala enterprise. Amman telah melakukan migrasi sistem dari on-premises ke SAP S/4HANA Cloud untuk memastikan keandalan data di seluruh rantai operasi. Masa depan pertambangan modern, setidaknya bagi Amman, tidak lagi hanya soal seberapa banyak mineral yang diekstraksi, tetapi seberapa cerdas dan bertanggung jawab proses tersebut dijalankan.