Kepala Seksi Rehabilitasi Pascabencana BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara, Helen Dias Andhini, resmi meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin dengan predikat Cumlaude dan IPK sempurna 4,00. Capaian ini diraihnya hanya dalam waktu studi 2 tahun 2 hari, dengan disertasi yang membahas model manajemen krisis strategis untuk ketahanan daerah pascabencana.
MAKASSAR — Helen Dias Andhini mempertahankan disertasinya dalam Ujian Promosi Doktor di Universitas Hasanuddin, Selasa lalu. Penelitiannya berjudul "Model Manajemen Krisis Strategis: Peran Mediasi Kesiapan Kelembagaan, Tata Kelola Kolaboratif, dan Pemulihan Pascabencana terhadap Ketahanan Berkelanjutan di Provinsi Sulawesi Tenggara".
Di hadapan tim penguji yang dipimpin Prof. Dr. Mursalim Nohong, S.E., M.Si., Helen memaparkan temuan yang berangkat dari pengalaman langsungnya menangani bencana di lapangan. Ia dibimbing langsung oleh Prof. Dr. Abd. Rahman Kadir, S.E., M.Si. sebagai promotor dan Prof. Dr. Muhammad Yunus Amar, S.E., M.B.A. sebagai ko-promotor.
Kapasitas Penanggulangan Bencana Sudah Ada, Integrasi yang Kurang
Berbeda dari asumsi umum yang menyebut keterbatasan sumber daya sebagai biang keladi lambatnya pemulihan, Helen justru menemukan persoalan lain. Menurutnya, kapasitas kelembagaan, regulasi, dan sistem sebenarnya telah tersedia di Sulawesi Tenggara.
"Penelitian ini berangkat dari apa yang saya lihat dan alami dalam praktik. Kita sebenarnya memiliki banyak kapasitas, tetapi tantangannya adalah bagaimana kapasitas tersebut dapat terintegrasi dan bekerja secara optimal," ungkap Helen dalam keterangannya, Rabu (19/2).
Ia menegaskan, strategi manajemen krisis tidak boleh berhenti pada dokumen perencanaan. Strategi harus mampu memperkuat kesiapan institusi dan kolaborasi antaraktor, lalu diterjemahkan menjadi proses pemulihan yang efektif untuk membangun ketahanan jangka panjang.
Pemulihan Bukan Sekadar Membangun Kembali Infrastruktur
Dalam disertasinya, Helen mengintegrasikan lima konsep sekaligus: Strategic Crisis Management, Institutional Readiness, Collaborative Governance, Recovery After Disaster, dan Sustainable Resilience. Model ini dirancang menjadi satu kesatuan sistem yang utuh.
Ia menekankan bahwa pemulihan pascabencana harus dimaknai lebih luas dari perbaikan fisik. Fungsi kehidupan masyarakat seperti pelayanan publik, sosial, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan harus kembali berjalan normal.
"Prinsipnya bukan hanya kembali seperti sebelum bencana, tetapi bagaimana kita dapat pulih lebih baik dan tidak membangun kembali kerentanan yang sama," jelasnya.
Model "Siaga–Pulih–Tangguh" untuk Sultra
Secara praktis, hasil penelitian Helen diterjemahkan melalui semangat "Siaga–Pulih–Tangguh". Konsep ini menggambarkan daerah yang memiliki strategi menghadapi krisis, mampu memulihkan diri lebih baik, serta terus belajar dan beradaptasi menghadapi risiko berikutnya.
Helen menilai model ini berpeluang besar diterapkan di Sulawesi Tenggara. Sebagian besar kapasitas dasar penanggulangan bencana di daerah tersebut sudah tersedia dan tinggal diperkuat.
"Kita tidak harus memulai semuanya dari nol. Yang diperlukan adalah memperkuat dan mengintegrasikan sistem yang sudah ada sehingga seluruh unsur dapat bekerja bersama secara konsisten dan berkelanjutan," ujarnya.
Dua Jurnal Scopus Q2 dan Sebuah Buku Dihasilkan Selama Studi
Selama menempuh pendidikan doktoral, Helen tidak hanya fokus pada disertasinya. Ia juga berhasil menerbitkan dua artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus Q2 serta sebuah buku. Prestasi ini melengkapi gelar Cumlaude yang diraihnya.
Bagi Helen, gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan. Ia berharap ilmunya dapat berkontribusi nyata bagi daerah, khususnya dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih strategis, kolaboratif, dan berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.
"Gelar doktor membawa tanggung jawab yang lebih besar. Saya ingin hasil dari perjalanan akademik ini kembali kepada daerah dan masyarakat," pungkasnya.