SULAWESI TENGGARA — Ekspor skuter listrik China ke India hampir berlipat ganda pada Agustus, sementara kiriman ke Pakistan dan Bangladesh masing-masing melonjak 291% dan 553% menurut data bea cukai China. Lonjakan ini dipicu mahalnya bahan bakar minyak akibat perang AS-Israel dengan Iran yang membuat warga Asia Selatan beralih ke kendaraan listrik murah. Bangladesh, yang mengimpor sekitar 95% kebutuhan minyaknya, mencatat antrean pengisian BBM hingga 8-10 jam pada Maret dan April.
Data bea cukai China menunjukkan pengiriman skuter listrik ke tiga pasar Asia Selatan itu melesat dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan paling tajam terjadi di Bangladesh, disusul Pakistan, sementara India yang merupakan pusat otomotif kawasan mencatat pertumbuhan hampir dua kali lipat.
Pemicunya adalah lonjakan harga minyak dunia sejak perang dimulai pada Februari. Bagi Bangladesh, guncangan itu terasa mendadak karena hampir seluruh pasokan bahan bakar berasal dari impor.
Direktur divisi Rancon Motors, distributor otomotif yang berbasis di Dhaka, Imran Zaman Khan, menggambarkan dampak krisis bahan bakar terhadap warga.
"Pada bulan Maret dan April, orang-orang mengantre mengisi bahan bakar selama delapan hingga 10 jam," kata Khan.
Sebelum krisis melanda, masyarakat Bangladesh memandang kendaraan listrik sebagai fenomena negara lain. Setelah Maret dan April, pandangan itu berubah.
"Setelah bulan Maret dan April, kendaraan listrik menjadi sesuatu yang dirasa perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari," sambungnya.
Menurut Khan, sejumlah perusahaan motor listrik asal Beijing sudah masuk ke Bangladesh. Pesaing dari India, yang selama ini menjadi pusat otomotif Asia Selatan, belum serius menggarap pasar tersebut.
"Konsumen pada dasarnya hanya punya dua pilihan: Membeli kendaraan listrik buatan China, atau tidak beralih ke kendaraan listrik sama sekali."
Tidak semua motor listrik yang dijual di Bangladesh diimpor utuh dari China. Sebagian perusahaan merakitnya di dalam negeri, meski komponen utamanya tetap berasal dari China. Hal itu diungkapkan Mostafa Al Mahmud, presiden Asosiasi Energi Berkelanjutan dan Terbarukan Bangladesh.
Al Mahmud menyebut penghematan yang didapat konsumen sangat besar. Biaya operasional motor listrik hanya sepersepuluh dari biaya sepeda motor berbahan bakar bensin.
Berbeda dengan mobil listrik di negara Barat yang terkendala harga awal mahal, motor listrik dinilai lebih terjangkau. "Harganya benar-benar sebanding, banyak sepeda motor [berbahan bakar bensin] justru lebih mahal daripada skuter listrik," jelasnya.
Sebagian pembeli skuter listrik China bukan mantan pengguna motor bensin. Banyak di antaranya pengendara pemula yang tertarik pada harga murah sekaligus kebebasan mobilitas, khususnya perempuan.
"Sebelumnya, perempuan jauh lebih jarang bepergian," kata Al Mahmud. "Karena harganya [yang murah], penjualan skuter listrik di kalangan perempuan benar-benar meningkat pesat, karena mereka ingin memiliki kebebasan sendiri, akses mudah ke transportasi pribadi mereka."
Tren serupa muncul di Pakistan. Faiza Ashraf, seorang desainer muda, membeli motor listriknya saat masih mahasiswa. Alasannya praktis: transportasi umum dan taksi online dinilai tidak nyaman, ditambah risiko pelecehan terhadap penumpang perempuan.
"Kami harus menggunakan transportasi umum atau taksi online, dan banyak perempuan menghadapi pelecehan dari para pengemudi. Selain itu, cuacanya juga sangat panas dan tidak menyenangkan."
Ashraf termasuk pengguna awal, membeli motor listrik sebelum harga BBM naik ketika pengendara perempuan masih jarang terlihat. Setelah membagikan pengalamannya secara online, banyak perempuan menghubunginya untuk belajar berkendara bersama.
Perang dan konsekuensi ekonominya memperluas jaringan pengendara motor listrik di Pakistan. Ashraf kini rutin menyelenggarakan pertemuan dengan sesama perempuan pengendara di berbagai kota.
Perubahan itu tidak disambut semua pihak. Di Pakistan, India, dan Bangladesh, masih ada pandangan bahwa perempuan tidak seharusnya mengendarai sepeda motor atau bepergian sendiri. Komunitas pengendara perempuan menjadi ruang bagi mereka yang ingin tetap bergerak.