Ekowisata Sukagalih Sukabumi, Jalur Trekking Owa Jawa dan Papan Interpretasi

Penulis: Yasir  •  Minggu, 01 November 2026 | 14:18:01 WIB
Warga dan pemandu menyusuri jalur trekking di Kampung Sukagalih, Desa Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi.

SULAWESI TENGGARA — Kampung Sukagalih di Desa Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menawarkan ekowisata berbasis konservasi owa jawa di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Wisatawan bisa menyusuri jalur trekking yang dilengkapi enam titik papan interpretasi flora dan fauna. Pengembangan kawasan digerakkan warga setempat, terutama kelompok perempuan dan generasi muda, dengan dukungan Yayasan Kehati.

Komunitas Sawala Leuweung memetakan jalur trekking di Kampung Sukagalih dan menyiapkan enam titik papan interpretasi. Papan-papan itu memperkenalkan kekayaan alam sekitar jalur, termasuk owa jawa (Hylobates moloch) dan habitatnya. Primata endemik Pulau Jawa ini berstatus Terancam Punah dalam Daftar Merah IUCN.

Mengapa Owa Jawa Jadi Daya Tarik Utama

Owa jawa hanya hidup di Pulau Jawa dan keberadaannya bergantung penuh pada kondisi hutan. Di Sukagalih, satwa ini dikenalkan sebagai bagian dari ekowisata berbasis masyarakat, bukan tontonan biasa.

Kegiatan konservasi di Kecamatan Kabandungan mencatat sedikitnya 39 kelompok owa jawa di delapan titik pengamatan. Data tersebut masih dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui sebaran dan pendugaan populasi.

Aktivitas yang Bisa Dilakukan

  • Menjelajahi jalur trekking sambil mengenal flora dan fauna lewat papan interpretasi
  • Belajar konservasi owa jawa dan habitatnya bersama pemandu warga
  • Berkemah di area yang fasilitas dasarnya dibenahi warga
  • Mencicipi produk olahan lokal: manisan terong panjang dan dodol waluh buatan kelompok perempuan
  • Ikut diskusi lingkungan dan mendengarkan podcast Nyawala yang dikembangkan generasi muda

Cara Menuju Lokasi

Kampung Sukagalih berada di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Kawasan ini merupakan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak, sehingga akses jalan menuju kampung melewati rute pedesaan menuju kaki gunung.

Informasi rute terkini, kondisi jalan, dan titik temu dengan pemandu sebaiknya dikonfirmasi ke pengelola ekowisata setempat atau dinas pariwisata Kabupaten Sukabumi sebelum berangkat.

Tiket Masuk dan Fasilitas

Tarif masuk, jam operasional, dan kuota pengunjung belum disebutkan dalam informasi resmi yang tersedia. Wisatawan disarankan menghubungi pengelola Kampung Sukagalih atau Yayasan Kehati untuk data terbaru.

Fasilitas yang sudah ditata warga mencakup area berkemah dan jalur trekking berpapan interpretasi. Produk olahan lokal dijual sebagai bagian dari manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Tips Berkunjung

Datang pada pagi hari untuk peluang terbaik mengamati satwa dan menikmati udara kaki gunung. Bawa alas kaki bersol kuat, jaket, dan air minum karena jalur trekking melewati kawasan hutan.

Jaga jarak dari owa jawa, jangan memberi makan satwa, dan patuhi arahan pemandu warga. Etika ini penting karena kawasan menjadi habitat primata yang dilindungi.

Manajer Program Kehutanan Yayasan Kehati, Christian Natalie, menekankan bahwa warga harus menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata karena merekalah yang paling memahami kawasan tersebut.

"Yang ingin dibangun bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan kegiatan wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat dan tetap menjaga alam. Berbasis konservasi, bukan eksploitasi," ujar Christian.

Nilai Edukasi bagi Pengunjung

Menurut Christian, informasi pemetaan owa jawa memperkaya edukasi ekowisata. Pengunjung dapat mengenal satwa endemik di sekitar mereka dan memahami pentingnya menjaga habitatnya.

Dengan begitu, wisata di Sukagalih berfungsi sebagai sarana menumbuhkan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati. Bukan sekadar perjalanan foto, tapi pengalaman belajar tentang hutan Jawa dan penghuninya.

Durasi ideal kunjungan satu hingga dua hari, cukup untuk trekking, sesi edukasi konservasi, dan menginap di area berkemah. Pastikan jadwal disepakati dengan pengelola agar kunjungan tidak mengganggu aktivitas warga dan satwa.

Reporter: Yasir
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top