SULAWESI TENGGARA — Keputusan untuk mengubah haluan ini diumumkan setelah NASA mengevaluasi ulang strategi Artemis di awal 2026. Alih-alih membangun stasiun perantara di orbit, badan antariksa tersebut memilih untuk mengerahkan seluruh sumber daya langsung ke permukaan Bulan. Langkah ini disebut-sebut akan memangkas biaya operasional dan mempercepat jadwal misi berawak.
Mengapa Kutub Selatan Bulan Begitu Krusial?
Kutub selatan Bulan bukanlah lokasi yang dipilih secara acak. Wilayah ini menyimpan cadangan es air di kawah-kawah yang secara permanen tertutup bayangan. Air ini bukan hanya untuk konsumsi astronot, tetapi juga dapat dipecah menjadi hidrogen dan oksigen—bahan bakar roket yang potensial.
Bagi Indonesia, yang tengah giat mengembangkan ekosistem antariksa melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pilihan lokasi ini menegaskan pentingnya riset sumber daya in-situ. Keberhasilan NASA menambang es di Bulan akan membuka jalan bagi misi-misi selanjutnya yang lebih jauh, termasuk ke Mars.
Tiga Fase Menuju Hunian Tetap
Rencana ambisius ini dibagi dalam tiga fase yang dimulai dalam waktu dekat. Fase pertama (2026-2029) akan menjadi periode paling sibuk dengan setidaknya 25 misi robotik dan 21 pendaratan di permukaan. Fase ini sepenuhnya tanpa awak, fokus pada pengujian teknologi dan pengiriman muatan.
Salah satu misi kunci di fase ini adalah uji terbang pendarat Blue Moon Mark 1 Endurance milik Blue Origin pada akhir 2026. Modul ini akan menguji sistem navigasi dan pendaratan otonom. Jika sukses, versi berawak (Blue Moon Mark 2) ditargetkan beroperasi pada 2028.
Dari Robot ke Beton: Infrastruktur Semi-Permanen
Memasuki fase kedua pada 2029, NASA akan mulai merakit infrastruktur semi-permanen. Sebanyak 60 ton muatan—termasuk reaktor permukaan, modul habitat awal, dan jaringan komunikasi bertenaga tinggi—akan dikirim dalam 24 misi. Ini adalah fase di mana "rumah" pertama di Bulan mulai berdiri.
Fase ketiga adalah skala penuh. NASA membayangkan pusat logistik dengan pergantian personel secara konstan. Sekitar 38 ton kargo akan dikirim setiap tahunnya untuk pemeliharaan dan ekspansi. Kutub selatan Bulan akan berubah menjadi kota sains mini dengan modul hunian, listrik andal, dan jalur transportasi tetap.
"Kami Akan Belajar dari Setiap Misi"
Administrator NASA, Jared Isaacman, dalam pernyataan resminya menekankan bahwa setiap pendaratan adalah pelajaran berharga. "Setiap misi, baik berawak maupun tidak, akan menjadi kesempatan belajar saat kita kembali ke permukaan Bulan, membangun infrastruktur untuk tinggal di sana, dan menguasai keterampilan yang diperlukan untuk hidup di salah satu lingkungan paling berbahaya yang bisa dibayangkan," ujarnya.
Isaacman juga menyoroti bahwa program ini bukan sekadar eksplorasi. "Kami pergi untuk sains, untuk keuntungan ekonomi dan teknologi, untuk inovasi yang akan membuat kehidupan lebih baik di Bumi, dan untuk mempersiapkan diri ke mana pun kami akan pergi selanjutnya," imbuhnya.
Apa Artinya Bagi Indonesia?
Meski Indonesia tidak terlibat langsung dalam program Artemis, perubahan strategi NASA ini memberikan sinyal jelas: ekonomi antariksa berbasis sumber daya in-situ (ISRU) akan menjadi medan kompetisi berikutnya. Negara-negara yang mampu mengembangkan teknologi penambangan dan pengolahan sumber daya di luar angkasa akan memegang kunci eksplorasi masa depan.
BRIN sendiri telah mulai merintis riset propelan berbasis air dan material konstruksi untuk habitat luar angkasa. Peta jalan NASA ini bisa menjadi tolok ukur bagi ambisi antariksa Indonesia—bahwa perlombaan bukan lagi sekadar menempatkan satelit di orbit, melainkan membangun peradaban di luar Bumi.