SULAWESI TENGGARA — Angka produksi tersebut disampaikan langsung dalam paparan kinerja perusahaan pada RUPST yang digelar Rabu kemarin. Pencapaian ini menjadi sinyal positif di tengah tantangan industri hulu migas global yang masih dibayangi fluktuasi harga minyak dan penurunan produksi alamiah sumur-sumur tua.
Sepanjang 2025, PHE tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga gencar melakukan kegiatan eksplorasi. Hasilnya, perusahaan berhasil menemukan cadangan baru yang signifikan. Penambahan cadangan sebesar 1 miliar barel setara minyak ini menjadi modal penting bagi keberlanjutan operasi Pertamina ke depan.
Pencapaian ini diraih melalui berbagai program pengeboran sumur pengembangan dan eksplorasi di sejumlah wilayah kerja, baik di dalam maupun luar negeri. Manajemen PHE menyebut kinerja solid ini tidak terlepas dari efisiensi operasional dan adopsi teknologi terbaru dalam proses produksi.
Dengan produksi yang tembus di atas 1 juta BOEPD, Pertamina memastikan pasokan energi primer untuk kebutuhan dalam negeri tetap terjaga. Tambahan cadangan 1 miliar barel juga memberikan jaminan pasokan jangka menengah-panjang, mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah.
Bagi masyarakat, stabilitas pasokan ini diharapkan mampu menahan gejolak harga BBM di dalam negeri. Pemerintah pun memiliki ruang fiskal yang lebih longgar karena kebutuhan impor migas bisa ditekan.
Keberhasilan PHE di 2025 menjadi pijakan untuk menetapkan target yang lebih ambisius di tahun-tahun mendatang. Perusahaan berencana melanjutkan agresivitas eksplorasi di cekungan-cekungan potensial yang belum tergarap maksimal, termasuk di wilayah Indonesia timur.
Dengan portofolio yang solid, Pertamina optimistis tren produksi di atas 1 juta BOEPD dapat dipertahankan. Langkah ini sejalan dengan arahan pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi nasional.