SULAWESI TENGGARA — Langkah bank-bank BUMN dan swasta menyesuaikan harga dolar AS ini menjadi indikasi langsung bagi pelaku bisnis dan investor ritel. Keputusan ini tidak lepas dari pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot yang masih berada dalam tren pelemahan terhadap greenback dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan pantauan Bisnis.com, berikut rentang harga yang ditawarkan oleh masing-masing bank per Senin (22/6):
Selisih antara harga jual dan beli atau spread di tiap bank masih berkisar 300 poin. Angka ini wajar untuk transaksi walk-in di counter bank, namun lebih lebar dibandingkan transaksi di pasar uang antarbank.
Tekanan pada rupiah pada hari ini terutama dipicu oleh penguatan indeks dolar AS di pasar global. Investor global cenderung beralih ke aset safe haven seperti dolar AS di tengah ketidakpastian pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.
Selain faktor eksternal, sentimen dari dalam negeri juga belum cukup kuat untuk menopang rupiah. Pasar masih menanti data cadangan devisa Indonesia dan kebijakan lanjutan Bank Indonesia untuk menstabilkan kurs.
Bagi importir, kenaikan harga dolar di bank berarti biaya bahan baku atau barang jadi yang dibeli dari luar negeri akan lebih mahal. Sebaliknya, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih besar jika dikonversi ke rupiah.
Investor yang memiliki portofolio di saham-saham berbasis dolar atau yang sensitif terhadap kurs juga perlu mencermati pergerakan ini. Pelemahan rupiah yang berkepanjangan bisa menekan laba perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS.
Pelaku pasar kini fokus pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pekan ini. Keputusan suku bunga acuan atau BI Rate akan menjadi sinyal penting apakah otoritas moneter akan melakukan intervensi lebih agresif untuk menahan pelemahan rupiah.
Jika BI Rate dinaikkan, ada potensi rupiah menguat dalam jangka pendek. Namun, jika ditahan, tekanan terhadap kurs diperkirakan masih berlanjut seiring dengan penguatan dolar AS di pasar global.