Kurs Dolar di BCA, BRI, Mandiri, dan BNI pada Senin (22/6) Menguat, Rupiah Tertekan Sentimen Global

Penulis: Fajar  •  Senin, 22 Juni 2026 | 12:52:01 WIB
Harga jual dan beli dolar AS di BCA, BRI, Mandiri, dan BNI mengalami penguatan pada Senin (22/6).

SULAWESI TENGGARA — Langkah bank-bank BUMN dan swasta menyesuaikan harga dolar AS ini menjadi indikasi langsung bagi pelaku bisnis dan investor ritel. Keputusan ini tidak lepas dari pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot yang masih berada dalam tren pelemahan terhadap greenback dalam beberapa pekan terakhir.

Perbandingan Harga di Empat Bank Besar

Berdasarkan pantauan Bisnis.com, berikut rentang harga yang ditawarkan oleh masing-masing bank per Senin (22/6):

  • BCA: Harga beli di Rp 14.800 per dolar AS, harga jual di Rp 15.100 per dolar AS.
  • BRI: Harga beli di Rp 14.775 per dolar AS, harga jual di Rp 15.125 per dolar AS.
  • Mandiri: Harga beli di Rp 14.800 per dolar AS, harga jual di Rp 15.100 per dolar AS.
  • BNI: Harga beli di Rp 14.785 per dolar AS, harga jual di Rp 15.115 per dolar AS.

Selisih antara harga jual dan beli atau spread di tiap bank masih berkisar 300 poin. Angka ini wajar untuk transaksi walk-in di counter bank, namun lebih lebar dibandingkan transaksi di pasar uang antarbank.

Mengapa Rupiah Kembali Tertekan?

Tekanan pada rupiah pada hari ini terutama dipicu oleh penguatan indeks dolar AS di pasar global. Investor global cenderung beralih ke aset safe haven seperti dolar AS di tengah ketidakpastian pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Selain faktor eksternal, sentimen dari dalam negeri juga belum cukup kuat untuk menopang rupiah. Pasar masih menanti data cadangan devisa Indonesia dan kebijakan lanjutan Bank Indonesia untuk menstabilkan kurs.

Apa Artinya Bagi Investor dan Pelaku Bisnis?

Bagi importir, kenaikan harga dolar di bank berarti biaya bahan baku atau barang jadi yang dibeli dari luar negeri akan lebih mahal. Sebaliknya, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih besar jika dikonversi ke rupiah.

Investor yang memiliki portofolio di saham-saham berbasis dolar atau yang sensitif terhadap kurs juga perlu mencermati pergerakan ini. Pelemahan rupiah yang berkepanjangan bisa menekan laba perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS.

Proyeksi ke Depan

Pelaku pasar kini fokus pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pekan ini. Keputusan suku bunga acuan atau BI Rate akan menjadi sinyal penting apakah otoritas moneter akan melakukan intervensi lebih agresif untuk menahan pelemahan rupiah.

Jika BI Rate dinaikkan, ada potensi rupiah menguat dalam jangka pendek. Namun, jika ditahan, tekanan terhadap kurs diperkirakan masih berlanjut seiring dengan penguatan dolar AS di pasar global.

Reporter: Fajar
Sumber: finansial.bisnis.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top