Asing Jual Rp442 Miliar, IHSG Terjepit Sinyal Higher-for-Longer The Fed

Penulis: Yasir  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 09:20:01 WIB
IHSG ditutup terkoreksi tipis 0,06 persen pada Jumat (28/8) di tengah arus keluar modal asing yang signifikan.

SULAWESI TENGGARA — Pasar modal Indonesia memasuki pekan terakhir Agustus dengan sentimen yang tidak menentu. IHSG ditutup terkoreksi tipis 0,06 persen pada Jumat (28/8), disertai arus keluar modal asing yang signifikan. Saham EMAS, ISAT, AMMN, BRMS, dan ASII menjadi sasaran jual investor asing.

Sinyal The Fed Masih Menekan Pasar Global

Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole menjadi pemicu utama kekhawatiran. Warsh menegaskan inflasi inti belum melambat sesuai harapan, memperkuat spekulasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama atau higher for longer.

"Kami berpandangan IHSG akan dipengaruhi sentimen: nada hawkish Fed masih nyata, seiring dengan pernyataan Warsh terkait inflasi inti belum melambat dan mengonfirmasi higher for longer masih berlanjut," ujar VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi.

Ekspektasi ini berimbas pada tiga indeks utama Wall Street yang kompak ditutup di zona merah. S&P 500 turun 0,25 persen, Nasdaq Composite melemah 0,52 persen, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,02 persen. Kondisi ini berpotensi menahan laju bursa Asia, termasuk Indonesia.

Proyeksi Berbeda dari Tiga Sekuritas

Kiwoom Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang support 6.430 dan resistance 6.606. Indikator MACD menunjukkan tren landai, sementara RSI bergerak turun.

Pandangan berbeda disampaikan MNC Sekuritas. Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support 6.506 dan resistance 6.539.

BNI Sekuritas juga melihat potensi rebound. Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas Fanny Suherman menyebut indeks masih mampu bertahan di atas area support kuat 6.460–6.500, dengan resistance di kisaran 6.580–6.620.

Data Inflasi dan PMI Jadi Katalis Pekan Ini

Pelaku pasar menantikan data inflasi Indonesia periode Agustus 2026 yang diproyeksikan tumbuh 2,86 persen secara tahunan. Selain itu, data PMI manufaktur juga menjadi perhatian dengan konsensus di level 50,5, masih berada di zona ekspansif.

"Hal ini akan cenderung direspons moderat oleh pasar karena belum adanya perubahan material," kata Oktavianus.

Sentimen eksternal sebenarnya memberikan sedikit angin segar. Mayoritas bursa Asia ditutup menguat pada Jumat, didorong penurunan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi. Optimisme muncul setelah dialog diplomatik Iran dan Oman terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Nikkei 225 naik 0,41 persen, Taiex Taiwan menguat 0,77 persen, dan Hang Seng Hong Kong terangkat 0,07 persen, meski KOSPI Korea Selatan justru melemah 1,79 persen.

Rekomendasi Saham dari Analis

Di tengah ketidakpastian, sejumlah analis memberikan rekomendasi saham untuk dicermati investor.

  • PT Indika Energy Tbk (INDY)buy on break di level 2.850, support 2.640, resistance 2.960 (Kiwoom Sekuritas)
  • PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR)speculative buy, support 870, resistance 1.140 (Kiwoom Sekuritas)
  • PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) — target harga 1.455–1.520 (MNC Sekuritas)
  • PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) — target harga 7.450–7.650 (MNC Sekuritas)

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Yasir
Sumber: banjarbaruklik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top