SULAWESI TENGGARA — Pencapaian tersebut didorong oleh ekspansi kredit yang tumbuh 12,3 persen secara tahunan menjadi Rp 1.340 triliun. Direksi Bank Mandiri menyebut pertumbuhan ini berasal dari segmen korporasi, komersial, dan UMKM yang menjadi tulang punggung bisnis perseroan.
Kredit Tumbuh, Dana Murah Meningkat
Bank pelat merah ini mencatat pertumbuhan kredit di semua segmen. Kredit korporasi naik 14,1 persen, sementara segmen komersial dan UMKM masing-masing tumbuh 11,2 persen dan 9,8 persen.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 1.570 triliun. Komposisi dana murah (CASA) meningkat menjadi 73,4 persen, menekan biaya bunga dan memperkuat margin bunga bersih.
Digitalisasi Pacu Transaksi dan Efisiensi
Ekosistem digital menjadi motor kedua pertumbuhan. Aplikasi Livin' by Mandiri mencatat 18,5 juta pengguna dengan volume transaksi Rp 1.200 triliun. Sementara platform wholesale Kopra by Mandiri melayani 3.500 nasabah korporasi dengan transaksi Rp 6.500 triliun.
Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, mengatakan digitalisasi tidak hanya meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income), tetapi juga menekan biaya operasional. "Efisiensi dari digitalisasi memungkinkan kami menjaga rasio biaya terhadap pendapatan (BOPO) di level 67,8 persen," ujarnya dalam konferensi pers, pekan lalu.
Dividen dan Target 2024
Bank Mandiri mengalokasikan 60 persen laba bersih sebagai dividen untuk negara dan publik. Sisanya akan digunakan untuk ekspansi kredit dan investasi teknologi.
Tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan kredit 10-12 persen dengan fokus pada sektor berkelanjutan (ESG) dan digital lending. Bank juga akan memperluas jangkauan agen BRILink dan layanan perbankan di daerah terpencil.
Laba bersih Rp 30,4 triliun ini naik 18,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Posisi itu menjadikan Bank Mandiri sebagai bank dengan laba terbesar kedua di Indonesia setelah BRI, sekaligus memperkuat dominasi perbankan BUMN di sektor keuangan nasional.