SULAWESI TENGGARA — Langkah Meta ini terbilang kontras. Sejak bergabung di RE100 pada 2016, perusahaan menyatakan seluruh operasinya telah menggunakan listrik terbarukan sejak 2020. Namun, ambisi AI yang haus daya mengubah peta jalan itu. Alih-alih memperkuat komitmen, Meta justru memilih mendanai pembangkit fosil dalam skala masif.
Skema Pendanaan 7,5 GW di Louisiana: Gas Alam Mendominasi
Proyek terbesar Meta saat ini adalah data center Hyperion di Richland Parish, Louisiana. Rencana awal menuntut tiga pembangkit gas baru berkapasitas total 2,26 GW. Angka itu kemudian membengkak drastis.
Pada Maret 2026, utility Entergy Louisiana mengumumkan kesepakatan kedua: Meta akan mendanai tujuh pembangkit gas siklus gabungan tambahan, total lebih dari 5,2 GW. Jika digabung, Louisiana kini memiliki sepuluh pembangkit gas yang didanai Meta dengan kapasitas sekitar 7,5 GW. Belum lagi proyek gas 200 MW di Ohio yang diumumkan Juni 2025.
Menariknya, New York Times melaporkan bahwa tidak ada perusahaan asuransi yang bersedia memberikan perlindungan penuh untuk Hyperion karena ukurannya yang sangat besar dan dibangun di dataran banjir.
“100% Energi Terbarukan” di Atas Kertas, Fosil di Kenyataan
Meta bersikeras masih “mencocokkan” 100% konsumsi listrik tahunannya dengan energi bersih dan terbarukan. Perusahaan mengklaim telah mendukung lebih dari 30 GW proyek angin, surya, baterai, nuklir, dan panas bumi. Paket Entergy di Louisiana juga mencakup pendanaan Meta hingga 2,5 GW energi terbarukan.
Namun praktik ini disebut sebagai “fudge” besar. Meta membeli sertifikat energi terbarukan (RECs) atau mendukung proyek bersih di tempat lain, sementara data center-nya tetap menggunakan listrik dari pembangkit fosil 24 jam sehari. Mendukung proyek baru di atas kertas tidak mengubah fakta bahwa sepuluh pembangkit gas itu akan beroperasi dan menghasilkan emisi selama puluhan tahun.
Big Tech Terbelah: Google dan Microsoft Juga Lakukan Hal Serupa
Meta bukan satu-satunya yang mengambil jalan ini. Google setuju membeli listrik dari pembangkit gas 400 MW di Illinois yang dilengkapi penangkapan karbon. Microsoft menandatangani kontrak 20 tahun untuk pembangkit gas 2,67 GW di data center West Texas. Namun, Apple, Google, dan Microsoft tetap tercatat sebagai anggota RE100 dari total 444 perusahaan.
Meta beralasan gas alam diperlukan ketika utilitas listrik setempat tidak mampu memenuhi kebutuhan daya AI-nya. Perusahaan kini juga mencari sertifikat untuk gas metana rendah. Padahal, proyek tenaga surya untuk data center sudah banyak dioperasikan Big Tech lain, termasuk Meta sendiri.
Janji Hijau yang Bergeser: AI vs Komitmen Iklim
Yang ditinggalkan Meta bukan sekadar keanggotaan RE100. Lebih dari itu, perusahaan meninggalkan janji yang jelas dan tanpa ambiguitas: 100% listrik terbarukan. Ketika pertumbuhan AI dan komitmen itu berbenturan, janji itulah yang bergeser. Data center Hyperion sendiri, menurut laporan, tidak mendapatkan asuransi penuh karena risiko banjir dan ukurannya yang raksasa.
Bagi pengguna di Indonesia, langkah Meta menjadi pengingat bahwa transisi energi di sektor teknologi masih jauh dari mulus. Di balik layar aplikasi yang kita gunakan sehari-hari, ada infrastruktur raksasa yang keputusan energinya bisa bertolak belakang dengan citra ramah lingkungan yang dibangun selama ini.