SULAWESI TENGGARA — Berdasarkan data pasar hingga pukul 09.38 WIB, rupiah melanjutkan tren pelemahan di tengah penguatan indeks dolar global. Kondisi ini membuat spread antara kurs beli dan jual di perbankan nasional melebar, terutama untuk transaksi tunai dan teller counter.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menawarkan tiga kategori kurs pada pagi ini. Untuk transaksi digital lewat e-Banking, e-Rate dipatok di level beli Rp 17.878 dan jual Rp 17.898 per dolar AS—hanya berselisih tipis 20 poin.
Namun, untuk transaksi tunai di cabang melalui TT Counter dan Bank Notes, spread-nya melebar drastis. BCA membanderol kurs beli di Rp 17.690 dan kurs jual di Rp 17.940 per dolar AS. Artinya, nasabah yang menukar uang tunai harus merogoh kocek lebih mahal, sementara yang menjual dolar hanya mendapat harga lebih rendah.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menerapkan skema special rate untuk nasabah dengan transaksi valas di atas 25.000 dolar AS.
Di Bank Mandiri, special rate untuk pembelian dolar AS dipatok Rp 17.895, sedangkan special rate jual di Rp 17.865. Angka ini lebih kompetitif dibandingkan TT Counter reguler yang mencapai Rp 17.940 untuk kurs jual dan Rp 17.640 untuk kurs beli.
Sementara itu, BNI menawarkan special rate beli di Rp 17.865 dan jual di Rp 17.895. Untuk transaksi tunai melalui Bank Notes, kurs beli BNI paling rendah di antara ketiga bank, yaitu Rp 17.625, sementara kurs jualnya Rp 17.925.
Perbedaan harga ini menjadi catatan penting bagi importir yang membutuhkan dolar untuk pembayaran, maupun eksportir yang hendak mencairkan valas. Selisih antara kurs beli dan jual di produk TT Counter dan Bank Notes mencapai 250–315 poin, tergantung bank.
Sebaliknya, nasabah yang bertransaksi lewat e-Banking atau dalam nominal besar bisa menikmati spread yang jauh lebih sempit, hanya sekitar 20–30 poin. Hal ini membuat transaksi digital atau wholesale lebih efisien dibandingkan penukaran tunai di counter.
Fenomena divergensi antara rupiah dan IHSG pagi ini menunjukkan aliran modal asing masih selektif. Di satu sisi, indeks saham mencatat penguatan ke 6.217, namun di sisi lain tekanan terhadap rupiah belum mereda.
Pelaku pasar masih mencermati kebijakan moneter global dan data ekonomi AS yang bisa mempengaruhi pergerakan dolar ke depan. Bagi nasabah yang akan melakukan transaksi valas hari ini, disarankan untuk membandingkan kurs di beberapa bank dan memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan nominal dan metode transaksi.