KENDARI — Suasana berbeda menyelimuti Kantor Wilayah Kemenkumham Sulawesi Tenggara beberapa waktu lalu. Para pegawai yang sehari-hari bergelut dengan dokumen hukum dan administrasi, tampak bergantian naik ke panggung untuk mendeklamasikan puisi. Mereka bukan sekadar membaca teks, tetapi larut dalam setiap bait yang sarat makna kebangsaan.
Lomba baca puisi ini sengaja digelar bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila. Panitia ingin mengingatkan kembali nilai-nilai Pancasila melalui medium seni yang lebih dekat dengan emosi dan perasaan.
"Melalui puisi, kami berharap semangat nasionalisme tidak hanya menjadi slogan, tetapi terinternalisasi dalam diri setiap pegawai," ujar salah satu panitia penyelenggara.
Peserta lomba tidak hanya berasal dari pegawai struktural, tetapi juga staf biasa. Beberapa dari mereka membacakan puisi karya sendiri yang mengangkat tema perjuangan, persatuan, hingga kritik sosial yang dibalut dengan nilai Pancasila.
Penampilan mereka dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari pegiat sastra dan budayawan lokal Kendari. Aspek penghayatan, intonasi, dan penguasaan panggung menjadi kriteria utama penilaian.
Kegiatan ini menjadi angin segar di tengah padatnya pekerjaan administrasi. Bagi sebagian pegawai, lomba ini adalah momen untuk mengekspresikan sisi lain dari diri mereka yang jarang terlihat di meja kerja.
Kemenkumham Sultra berharap kegiatan serupa bisa terus digelar secara rutin, tidak hanya saat Hari Lahir Pancasila. Dengan begitu, nilai-nilai kebangsaan bisa terus dirawat dan disebarkan melalui jalur budaya dan seni di lingkungan pemerintahan.