SULAWESI TENGGARA — Bencana yang berlangsung pada 26 Agustus 2026 itu berawal dari retaknya gletser di ketinggian sekitar 5.200 meter di dekat perbatasan Nepal-Tibet. Longsoran es, batu, dan lumpur raksasa bergerak menghantam kawasan permukiman serta titik kumpul wisatawan di sepanjang aliran Sungai Trishuli.
Menurut keterangan Dr. Wayan Sayoga, tokoh pemerhati lingkungan, para turis yang baru selesai sarapan pagi tak sempat menyelamatkan diri. Material berat datang tanpa tanda-tanda alam sebelumnya.
"Pagi itu para turis yang datang dari berbagai negara sudah berkumpul untuk melanjutkan perjalanan. Semua sudah pada selesai makan pagi. Tanpa ada sedikitpun pertanda alam banjir bandang dengan kecepatan tinggi disertai dengan beragam material berat, tiba tiba menghantam area turis dan beberapa pemukiman warga," kata Sayoga di Denpasar, Sabtu (5/9).
Yang membuat peristiwa ini berbeda dari banjir bandang biasa adalah kecepatannya. Sayoga menyebutkan, wilayah yang terdampak luluh lantak hanya dalam waktu sekitar 30 detik. Jembatan, hotel, dan rumah warga rata dengan tanah, menyisakan satu dua bangunan yang masih berdiri.
Hingga kini, jumlah korban jiwa masih terus diperbarui. Ribuan orang dilaporkan melayang dan banyak lainnya belum ditemukan, menjadikan peristiwa ini salah satu tragedi kemanusiaan terburuk yang pernah terjadi di kawasan Himalaya.
Sayoga menilai bencana ini tidak bisa dilepaskan dari ulah manusia. Para ahli telah lama memperingatkan bahaya pembangunan masif di lereng Himalaya, mulai dari pembukaan jalan, hotel, restoran, hingga proyek pembangkit listrik tenaga air (hydro power) yang mengebor lereng gunung.
"Meski demikian, kenyataannya adalah bahwa keserakahan manusia tidak kunjung surut. Keangkuhan dan keserakahan telah menguasai sehingga kepekaan dan kesadaran manusia menjadi tumpul. Sering kali sebetulnya alam sudah membisiki telinga kita, namun kita tidak mampu mendengarkan," ungkapnya.
Kondisi serupa, menurut Sayoga, kini terjadi di Bali. Pembangunan yang tidak cerdas dan tidak sesuai kebutuhan lingkungan disebutnya telah merusak keseimbangan alam. Bukit-bukit dikeruk untuk proyek yang mangkrak, sementara penambangan galian C ilegal di sejumlah daerah seperti Karangasem tidak ditertibkan aparat.
Ia mengingatkan bahwa Bali pernah dilanda banjir bandang besar pada 10 September 2025 dengan curah hujan ekstrem mencapai 390 mm per hari. Jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan, ancaman yang lebih besar mengintai.
"Suatu saat jika terjadi tsunami dengan ketinggian gelombang mencapai lebih dari lima meter saja maka air laut tanpa ampun akan ambyar menerjang setiap perkampungan, pemukiman dan fasilitas lainnya. Semoga saja mimpi buruk tersebut tidak terjadi," imbuhnya.
Sayoga menegaskan tragedi Nepal seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak. Manusia tidak bisa hidup tanpa dukungan alam, sehingga perlakuan semena-mena terhadap lingkungan hanya akan berujung pada bencana yang menyengsarakan banyak orang. Ia mengajak semua pihak untuk melakukan introspeksi diri dan memperbaiki kualitas lingkungan sebelum semuanya terlambat.