SULAWESI TENGGARA — Seorang anak berusia 9 tahun menghabiskan USD 118 ribu atau setara Rp 2 miliar untuk mempromosikan video bermain Minecraft dan Roblox di kanal YouTube-nya, Mighty Mike Plays. Uang tersebut berasal dari kartu kredit perusahaan tempat ayahnya, Dave, bekerja yang tersimpan di akun Google keluarga. Insiden ini menyoroti risiko penyimpanan metode pembayaran korporat pada perangkat yang diakses anak.
Dave awalnya membantu sang anak membuat kampanye iklan YouTube senilai USD 20 atau sekitar Rp 353 ribu. Langkah itu diambil setelah Mike frustrasi karena video bermain gamenya tidak kunjung menarik penonton maupun subscriber.
Tanpa sepengetahuan ayahnya, Mike kemudian mengakses kembali fitur iklan tersebut dan membuat kampanye miliknya sendiri. Kartu kredit kantor Dave tersimpan di akun Google yang terhubung dengan email, kalender, file, dan metode pembayaran perusahaan.
Dave mengaku tidak menyadari bahwa kartu kreditnya bisa dipakai untuk transaksi iklan dalam jumlah besar. Ia menilai logika anaknya sederhana: semakin banyak uang yang dikeluarkan, semakin banyak penonton yang datang.
"Dia sebenarnya tidak menyadari bahwa itu seharusnya menjadi semacam batasan dalam pikirannya. Logikanya sederhana, kurasa. Lebih banyak uang, lebih banyak penonton," kata Dave, dilansir Dexerto, Rabu (16/9/2026).
Pengeluaran itu berlangsung selama tiga minggu sebelum akhirnya terdeteksi. Tiga video yang dipromosikan lewat kampanye berbayar tersebut telah mencapai sekitar 200 ribu penayangan.
Pihak perusahaan tempat Dave bekerja memanggilnya ke rapat bersama manajer, perwakilan perusahaan, dan staf keuangan. Dalam pertemuan itu, mereka menunjukkan rincian pengeluaran iklan selama tiga minggu dan meminta penjelasan.
Dave mengaku transaksi tersebut berkaitan dengan sejumlah video di kanal YouTube anaknya. Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui keputusan perusahaan terhadap Dave, termasuk apakah ia harus mengembalikan uang tersebut atau menghadapi pemutusan hubungan kerja.
Dave menyatakan akan menghapus detail pembayaran yang tersimpan, menambahkan batasan pengeluaran, dan memasang kontrol orang tua pada akun Google keluarga. Ia juga mempertimbangkan menghentikan sementara kanal Mighty Mike Plays selama situasi ditinjau.
Ketika ditanya apakah ada pesan untuk pemirsanya, Mike yang berusia 9 tahun hanya menjawab singkat. "Aku benar-benar tamat," ujarnya.
Kasus ini menunjukkan bagaimana metode pembayaran yang tersimpan otomatis di ekosistem Google dapat diakses siapa pun yang memegang perangkat tanpa pengawasan. Bagi pelaku bisnis, pemisahan akun kerja dan akun pribadi menjadi langkah dasar yang kerap diabaikan.
Fitur kontrol orang tua dan verifikasi dua langkah pada akun Google kini menjadi kebutuhan, bukan opsi. Tanpa pembatasan tersebut, transaksi iklan berbayar bisa berjalan otomatis tanpa persetujuan pemilik kartu.